Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Free Website Hosting
Showing posts with label Mantra Hindu. Show all posts
Showing posts with label Mantra Hindu. Show all posts

Saturday, August 17, 2013

Dewata Nawa Sanga - Penguasa 9 Penjuru Mata Angin

Dewata Nawa Sanga tidak sama dengan Sang Hyang Widh. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Istilah Deva sebagai mahluk Tuhan adalah karena Deva dijadikan ( dicipta-kan ) sebagaimana dukemukakan di dalam kitab Reg Veda X. 129.6. Dengan diciptakan ini berarti Deva bukan Tuhan melainkan sebagai semua mahluk Tuhan yang lainnya pula, diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ) . 
Disamping pengertian di atas, dalam Reg Veda VIII.57.2, dijelaskan pula tentang banyaknya jumlah Deva yaitu sebanyak 33 yang terdapat di tiga ( 3 ) alam ( mandala ) . Ketigapuluh tiga Deva tersebut terdiri dari 8 Vasu ( Basu ), 11 Rudra, 12 Aditya, Indra dan Prajapati. 

Berikut ini adalah nama dan makna menurut Upanishad Brihadaranyaka dan itihasa Mahabharata, Kedelapan Vasu tersebut adalah : 

  1. Agni ( dewa api - "Panas api" ), atau Anala (juga disebut Agni) yang bermakna "Hidup"
  2. Prthivi ( dewa tanah - "Bumi" ), atau Dhara yang bermakna "Dukungan"
  3. Vayu ( dewa angin - "Angin" ), atau Anila yang bermakna "Angin"
  4. Dyaus ( dewa langit - "Langit" ), atau Prabhasa yang bermakna "Bersinar fajar"
  5. Aditya ( dewa matahari - "Abadi", nama yang sangat umum untuk matahari adalah Surya ), atau Pratyƫsha yang bermakna "Pra-fajar", yaitu senja pagi, tetapi sering digunakan hanya berarti "cahaya"
  6. Savitra ( dewa antariksa - "Ruang" ), atau Ha yang bermakna "Meresapi"
  7. Chandramas ( dewa bulan - "Bulan" ), atau Soma yang bermakna "Soma-tanaman", dan nama yang sangat umum untuk bulan
  8. Nakstrani ( dewa bintang - "Bintang" ), atau Dhruva yang bermakna "Bergerak", nama Polestar
Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava.

  1. Kapali menunjukkan tulang (dinyatakan dalam istilah feminin) atau cangkir / mangkuk yang digunakan untuk menyimpan makanan. Dengan kata lain bisa disebut sebagai kepala perempuan atau penyedia perempuan. Ini menunjukkan kekuatan Rudra tertanam jauh di dalam Amba. 
  2. Pingala menunjukkan api coklat kemerahan. Ini adalah api yang dimulai di Amba bawah pengaruh Purusha 
  3. Bima menunjukkan kekuatan, kuat hebat dan luar biasa. Ini adalah gaya Prana (Angkatan Kuat atau gluon dalam istilah modern) yang terbentuk api di Amba, 
  4. Virupa-aksha menunjukkan multi-lipat, multi-warna mata. Ini adalah Aksi / Caksu kekuatan ( tenaga lapangan) yang berasal dari Amba, 
  5. Vilohita menunjukkan kekuatan merah tua. Merah menunjukkan jarak jauh. Ini adalah Higgs kekuatan-bidang yang memiliki jangkauan panjang dengan intensitas rendah (Higgs lapangan) 
  6. Abhirbudnya menunjukkan sesuatu yang di kedalaman atau jauh di dalam inti. Ini adalah Getaran yang menyebabkan senar terbentuk pada Amba bergetar seperti partikel Core (Baryon), 
  7. Shasta menunjukkan untuk menahan, mengendalikan, perintah atau perintah. Ini adalah getaran yang menyebabkan senar terbentuk pada Amba terlihat seperti partikel tersembunyi, yang merupakan 'Mana' Partikel (meson) 
  8. Ajapada menunjukkan kambing berkaki. Ini adalah getaran yang menyebabkan senar terbentuk pada Amba untuk menjauh dan membentuk partikel Satelit (lepton) dengan Getaran yang berbeda. Ini adalah kekuatan yang membawa dalam Apana (mengusir kekuatan atau Angkatan Lemahnya boson W dan Z) dan memulai proses dari Peluruhan Radio-aktif yang tidak lain adalah kematian. Hal ini disebut sebagai kambing berkaki dengan kekuatan atom bisa dibentuk dengan penta / struktur heksagonal. (Orbit elips beberapa partikel satelit sekitar partikel inti membentuk struktur kaki berbentuk kambing) 
  9. Bhava menunjukkan datang ke keberadaan atau kelahiran. Ini adalah getaran yang menyebabkan ziznam. 
  10. Chanda menunjukkan memikat atau mengundang. Ini adalah getaran yang menyebabkan Reta yang berarti aliran bergerak atau mengalir. 
  11. Shambu menunjukkan mempertemukan atau bertemu atau bergabung. Ini adalah getaran yang menyatukan ziznam, reta dan Apa dan menyediakan platform untuk hidup, 
Semua makhluk biologis memiliki dimensi kesembilan, kesepuluh dan kesebelas, di alam semesta Ruang. Medan gaya yang hadir di ruang mana-mana (yang berasal dari Amba) mendorong proses penciptaan protein, medium asam dan basa menengah yang memulai proses kehidupan biologis. Bidang ini berlaku dapat dipahami sebagai mewujudkan sebagai kondisi lingkungan untuk evolusi kehidupan biologis (untuk misalnya, suhu air dll) di seluruh alam semesta untuk membuat protein, asam dan basa. 
 
 Adapun Deva -deva yang lainnya yaitu Aditya dilambangkan sebagai hukum tertinggi, sebagai pengatur alam semesta di bawah kekuasaan Tuhan. Selain sifat – sifat Deva dia atas dalam Reg Veda X.36.14 , dijelaskan pula bahwa fungsi Deva adalah sebagai DIKPALA, yaitu penguasa atas penjuru mata angin ( arah ) .
Dasar pemikiran ini bersumber pada pengertian bahwa Tuhan Maha Ada, sebagai hakekat yang memenuhi ruang dan waktu. Atas dasar pola pemikiran di atas timbul pula konsep – konsep baru tentang hubungan Deva-deva dengan penjuru arah mata angin dan membaginya menjadi sembilan sesuai dengan arah mata angin yang biasa. Namun menjadi sebelas dimasukkan zenit dan nadir . Kesembilan arah mata angin tersebut secara rinci diuraikan dalam pembahasan berikut.

Dewa juga ciptaan Tuhan yang berfungsi untuk mengendalikan alam semesta. Dewa-dewa dihubungkan dengan aspek-aspek tertentu dan khusus dari phenomena yang ada di alam semesta ini. Setiap aspek dikuasai oleh satu Dewa tertentu dengan ciri-ciri dan lambang yang khusus. 
Masing-masing Dewa memiliki sakti yang tidak terpisahkan darinya, seperti halnya suami istri, karena Dewa tidak dapat melakukan tugas sesuai fungsinya apabila tidak dengan saktinya. Sehingga jika Dewa diwujudkan dalam bentuk laki-laki, maka saktinya diwujudkan dalam bentuk wanita, maka dengan perpaduan Dewa (Purusa) dan Sakti (Pradana) tugasnya dapat dilakukan sesuai fungsinya. 
Dalam Hinduism, sebagai sinar suci atau manifestasi Tuhan yang menguasai, menjaga alam semesta, Dewa juga dilengkapi dengan senjata, kendaraan dan juga diwujudkan dalam bentuk simbol atau aksara. 
Misalnya Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Tri Murti yaitu : 
  1. Dewa Brahma dengan saktinya Dewi Saraswati, kendaraannya Angsa, senjatanya Danda/Gada dengan aksara suci “Ang”
  2. Dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Sri (Laksmi), kendaraannya burung Garuda, senjatanya Cakra dengan aksara suci “Ung”
  3. Dewa Siwa dengan saktinya Dewi Durga (Uma), kendaraannya Lembu, senjatanya Padma dengan aksara suci “Mang” 
Semua perwujudan Dewa dan Saktinya diwujudkan berbeda-beda tergantung dari penggambaran umat Hindu terhadap beliau. Misalnya wujud Dewa dan Saktinya di India dan di Bali sangatlah berbeda, namun fungsinya sama. 
  • Semua sakti-sakti para Dewa itu digambarkan memiliki paras yang cantik, namun Dewi Uma yang cantik apabila dalam tugasnya sebagai Dewi Maut (Durga) memiliki wajah yang sering digambarkan dalam wujud Rangda oleh masyarakat Bali. 
  • Dewa Brahma berwujudkan sebagai Maha Rsi yang tua karena usia beliau melebihi alam semesta, dikarenakan Dewa Brahma-lah yang bertugas menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini, beliau juga diwujudkan dalam bentuk berwajah empat (Catur Muka). 
  • Dewa Wisnu berwujudkan sebagai Dewa yang berparas paling elok, beliau juga diwujudkan dalam bentuk berkepala tiga (Tri Sirah). 
  • Dewa Siwa berwujudkan seorang Pertapa, karena beliaulah yang menguasai hidup manusia sehingga beliaulah yang akan meleburnya kembali, beliau juga diwujudkan bertangan empat (Catur Buja). 
Dari perwujudan sesuai gambaran umatnya inilah dibuatkan patung (arca). 
Dalam ajaran Hindu, jumlah Dewa adalah banyak sekali sesuai setiap fungsi yang ada dalam alam semesta ini. Diibaratkan Sang Hyang Widhi adalah Matahari, maka Dewa adalah sinar matahari yang jumlahnya tak terhingga. Matahari dikatakan panas, namun sinar nyalah yang menyentuh kita secara langsung. 
Demikian juga dengan Sang Hyang Widhi, Dewa sebagai sinar sucinya lah yang menghubungkan kita langsung denganNya. Mungkin dalam agama lain disebutkan Dewa itu sebagai Malaikat. 
Dalam ajaran Hindu ada sebutan Tri Murti, Panca Dewata/Panca Brahma, Dewata Nawa Sanga, Asta Dewata, Panca Korsika dan lainnya. Panca Dewata adalah manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai penjaga segala penjuru mata angin yaitu : 
  1. Sadyojata (Iswara) di Timur dengan aksara suci “Sa”
  2. Bamadewa (Brahma) di Selatan dengan aksara suci “Ba”
  3. Tat Purusa (Maha Dewa) di Barat dengan aksara suci “Ta”
  4. Aghora (Wisnu) di Utara dengan aksara suci “A”
  5. Isana (Siwa) di Tengah dengan aksara suci “I” 
Panca Dewata disebut juga dengan Panca Brahma, sehingga kelima aksara suci “Sa Ba Ta A I” disebut “Panca Brahma Wijaksara”. 
Disamping itu ada juga lima manifestasi Hyang Widhi lainnya yaitu :
  1. Maheswara di Tenggara dengan aksara suci “Na”
  2. Rudra/Ludra di Barat Daya dengan aksara suci “Ma" 
  3. Sangkara di Barat Laut dengan aksara suci “Si”
  4. Sambu di Timur Laut dengan aksara suci “Wa”
  5. Siwa di Tengah dengan aksara suci “Ya” 
Kelima aksara suci “Na Ma Si Wa Ya” disebut dengan Panca Aksara
Namun dalam ajaran agama Budha Mahayana, Panca Dewata (Panca Brahma) disebut dengan “Panca Tatagata” yaitu: 
  1. Aksobhya di Timur dengan aksara suci “Ah”
  2. Ratnasambhawa di Selatan dengan aksara suci “Ung”
  3. Amitaba di Barat dengan aksara suci “Trang”
  4. Amogasidhi di Utara dengan aksara suci “Hrih”
  5. Wairocana di Tengah dengan aksara suci “Ang” 
Sehingga kelima aksara “Ah Ung Trang Hrih Ang” disebut dengan Panca Wijaksara Tatagata sedangkan Panca aksara Budha nya “Na Ma Bu Da Ya”. 
Apabila dalam Panca Aksara dan Panca Brahma Wijaksara digabungkan menjadi DASA AKSARA “Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya”, jika ditambahkan dengan aksara “Om” maka disebut “Eka Dasa Aksara”. 
Dewata Nawa Sanga sering disebut juga dengan “Loka Pala”. 
Asta Dewata adalah delapan manifestasi sifat Hyang Widhi sebagai penguasa yaitu :

  1. Indra menguasai Hujan 
  2. Baruna menguasai Lautan
  3. Yama menguasai Arwah Manusia
  4. Kuwera menguasai Kekayaan Alam
  5. Bayu menguasai Angin
  6. Agni menguasai Api 
  7. Surya menguasai Matahari
  8. Candra menguasai Bulan 
Beberapa sebutan lain manifestasi Sang Hyang Widhi di penjuru mata angin adalah Panca Korsika, yaitu: 
  1. Sang Hyang Korsika di Timur
  2. Sang Hyang Garga di Selatan
  3. Sang Hyang Mentri di Barat 
  4. Sang Hyang Kurusya di Utara 
  5. Sang Hyang Prutanjala di Tengah
Dewata Nawasanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa. 

ERSANYA / TIMUR LAUT 

dewa sambhu
Urip : 6; 
Dewa : Sambu; 
Sakti : Maha Dewi; 
Senjata : Trisula; 
Warna : Biru; 
Aksara : Wa; 
Bhuwana Alit : Ineban; 
Tunggangannya : Wilmana; 
Bhuta : Pelung; 
Tastra : Pa dan Ja; 
Sabda : Mang mang; 
Wuku : Kulantir, Kuningan, Medangkungan, Kelawu; 
Caturwara : Sri; 
Sadwara : Urukung; 
Saptawara : Sukra; 
Astawara : Sri; 
Sangawara : Tulus; 
Dasawara : Sri; 
Dewa Sambhu merupakan penguasa arah timur laut (Ersanya), bersenjata Trisula, wahananya (kendaraan) Wilmana, shaktinya Dewi Mahadewi, aksara sucinya "Wa", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem 
Banten : Dewata-dewati, Sesayut Telik Jati, Tirta Sunia Merta; 
Mantra : Ong trisula yantu namo tasme nara yawe namo namah, ersanya desa raksa baya kala raja astra, jayeng satru, Ong kalo byo namah. 

PURWA / TIMUR 

dewa Iswara
Urip : 5; 
Dewa : Iswara; 
Sakti : Uma Dewi; 
Senjata : Bajra; 
Warna : Putih; 
Aksara : Sa (Sadyojata)
Bhuwana Alit : Pepusuh; 
Tunggangannya : Gajah; 
Bhuta : Jangkitan; 
Tastra : A dan Na; 
Sabda : Ngong ngong; 
Wuku : Taulu, Langkir, Matal, Dukut; 
Dwiwara : Menga; 
Pancawara : Umanis; 
Sadwara : Aryang; 
Saptawara : Redite; 
Astawara : Indra; 
Sangawara : Dangu; 
Dasawara : Pandita; 
Dewa Iswara merupakan penguasa arah timur (Purwa), bersenjata Bajra, wahananya (kendaraan) gajah, shaktinya Dewi Uma, aksara sucinya "Sa", di Bali beliau dipuja di Pura Lempuyang
Banten : Penyeneng, Sesayut Puja Kerti; 
Mantra : Ong bajra yantuname tasme tikna rayawe namo namah purwa desa, raksana ya kala rajastra sarwa, satya kala byoh namah namo swaha. 

GENYA / TENGGARA 

dewa mahesora
Urip : 8; 
Dewa : Mahesora; 
Sakti : Laksmi Dewa; 
Senjata : Dupa; 
Warna : Dadu/Merah Muda; 
Aksara : Na; 
Bhuwana Alit ; Peparu; 
Tunggangannya : Macan; 
Bhuta : Dadu; 
Tastra : Ca dan Ra; 
Sabda : Bang bang; 
Wuku : Uye, Gumbreg, Medangsia, Watugunung; 
Caturwara : Mandala; 
Sadwara : Paniron; 
Saptawara : Wraspati; 
Astawara : Guru; 
Sangawara : Jangu; 
Dasawara : Raja; 
Dewa Maheswara merupakan penguasa arah tenggara (Gneyan), bersenjata Dupa, wahananya (kendaraan) macan, shaktinya Dewi Lakshmi, aksara sucinya "Na", di Bali beliau dipuja di Pura Goa Lawah terletak di Kabupaten Klungkung 
Banten : Canang, sesayut Sida Karya, Tirta Pemarisuda; 
Mantra : Ong dupa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, genian dasa raksa raksa baya kala rajastra, jayeng satru kala byoh namo namah. 

DAKSINA / SELATAN 

dewa brahma
Urip : 9; 
Dewa : Brahma; 
Sakti: Saraswati Dewi; 
Senjata : Gada / Danda; 
Warna : Merah; 
Aksara : Ba (Bamadewa)
Bhuwana Alit : Hati; 
Tunggangannya : Angsa; 
Bhuta : Langkir; 
Tastra : Ka dan Da; 
Sabda : Ang ang; 
Wuku : Wariga, Pujut, Menail; 
Triwara : Pasah; 
Pancawara : Paing; 
Sadwara : Was; 
Saptawara : Saniscara; 
Astawara : Yama; 
Sangawara : Gigis; 
Dasawara : Desa; 
Dewa Brahma merupakan penguasa arah selatan (Daksina), bersenjata Gada, wahananya (kendaraan) angsa, shaktinya Dewi Saraswati, aksara sucinya "Ba", di Bali beliau dipuja di Pura Andakasa terletak di Kabupaten Karangasem 
Banten : Daksina, Sesayut Candra Geni, Tirta Kamandalu; 
Mantra : Ong danda yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, daksina desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru, Ong kala byoh nama swaha. 

NORITYA / BARAT DAYA 

dewa Rudra
Urip : 3; 
Dewa : Rudra; 
Sakti : Santani Dewi; 
Senjata : Moksala; 
Warna : Jingga; 
Aksara : Ma; 
Bhuwana Alit : Usus; 
Tunggangannya : Kebo; 
Bhuta : Jingga; 
Tastra : Ta Dan Sa; 
Sabda : Ngi ngi; 
Wuku : Warigadian, Pahang, Prangbakat; 
Caturwara : Laba; 
Sadwara : Maulu; 
Saptawara : Anggara; 
Astawara : Ludra; 
Sangawara : Nohan; 
Dasawara : Manusa 
Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali beliau dipuja di Pura Uluwatu terletak di Kabupaten Badung 
Banten : Dengen dengen, Sesayut Sida Lungguh, Tirta Merta Kala, Tempa pada Usus; 
Mantra : Ong moksala yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, noritya desanya raksa baya kala rajastra, jayeng satru Ong kala byoh nama swaha. 

PASCIMA / BARAT 

dewa Mahadewa
Urip : 7; 
Dewa : Mahadewa; 
Sakti : Saci Dewi; 
Senjata : Nagapasa; 
Warna : Kuning; 
Aksara : Ta (Tat Purusa)
Bhuwana Alit : Ungsilan; 
Tunggangannya : Naga; 
Bhuta : Lembu Kanya; 
Tastra : Wa dan La; 
Sabda : Ring ring; 
Wuku : Sinta, Julungwangi, Krulut, Bala; 
Triwara : Kajeng; 
Pancawara : Pon; 
Sadwara : Tungleh; 
Saptawara : Buda; 
Astawara : Brahma; 
Sangawara : Ogan; 
Dasawara : Pati; 
Dewa Mahadewa merupakan penguasa arah barat (Pascima), bersenjata Nagapasa, wahananya (kendaraan) Naga, shaktinya Dewi Sanci, aksara sucinya "Ta", di Bali beliau dipuja di Pura Batukaru terletak di Kabupaten Tabanan 
Banten : Danan, Sesayut tirta merta sari, Tirta Kundalini; 
Mantra : Ong Naga pasa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo, pascima desa raksa bala kala rajastra, jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha. 

WAYABYA / BARAT LAUT 

dewa Sangkara
Urip : 1; 
Dewa : Sangkara; 
Sakti : Rodri Dewi; 
Senjata : Angkus /Duaja; 
Warna : Wilis / Hijau; 
Aksara : Si; 
Bhuwana Alit : Limpa; 
Tunggangannya : Singa; 
Bhuta : Gadang/Hijau; 
Tastra : Ma dan Ga; 
Sabda : Eng eng; 
Wuku : Landep, Sungsang, Merakih, Ugu; 
Ekawara : Luang; 
Caturwara : Jaya; 
Astawara : Kala; 
Sangawara : Erangan; 
Dasawara : Raksasa; 
Dewa Sangkara merupakan penguasa arah barat laut (Wayabhya), bersenjata Angkus/Duaja, wahananya (kendaraan) singa, shaktinya Dewi Rodri, aksara sucinya "Si", di Bali beliau dipuja di Pura Puncak Mangu terletak di Kabupaten Badung 
Banten : Caru, Sesayut candi kesuma, Tirta Mahaning; 
Mantra : Ong duaja yantu namo tiksena nara yawe namo, waybya desa raksa baya kala rajastra, jayeng satru, Ong kalo byoh namo namah swaha. 

UTTARA / UTARA 

dewa Wisnu
Urip : 4; 
Dewa : Wisnu; 
Sakti : Sri Dewi; 
Senjata : Cakra; 
Warna : Ireng / Hitam; 
Aksara : A (Aghora)
Bhuwana Alit : Ampru; 
Tunggangannya : Garuda; 
Bhuta : Taruna; 
Tastra : Ba dan Nga; 
Sabda : Ung; 
Wuku : Ukir, Dungulan, Tambir, Wayang; 
Dwiwara : Pepet; 
Triwara : Beteng; 
Pancawara : Wage; 
Saptawara : Soma; 
Astawara : Uma; 
Sangawara : Urungan; 
Dasawara : Duka; 
Dewa Wisnu merupakan penguasa arah utara (Uttara), bersenjata Chakra Sudarshana, wahananya (kendaraan) Garuda, shaktinya Dewi Sri, aksara sucinya "A", di Bali beliau dipuja di Pura Ulundanu terletak di Kabupaten Bangli 
Banten : Peras, Sesayut ratu agung ring nyali, Tirta Pawitra; 
Mantra : Ong cakra yantu namo tasme tiksena ra yawe namo namah utara desa raksa baya, kala raja astra jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha. 

MADYA / TENGAH 

dewa Siwa
Urip : 8; 
Dewa : Siwa; 
Sakti : Uma Dewi (Parwati); 
Senjata : Padma; 
Warna : Panca Warna brumbun; 
Aksara : I (Isana) dan Ya; 
Bhuwana Alit : Tumpuking Hati; 
Tunggangannya : Lembu; 
Bhuta : Tiga Sakti; 
Tastra : Ya dan Nya; 
Sabda : Ong; 
Saptawara : Kliwon; 
Sangawara : Dadi; 
Dewa Siwa merupakan penguasa arah tengah (Madhya), bersenjata Padma, wahananya (kendaraan) Lembu Nandini,senjata Padma shaktinya Dewi Durga (Parwati), aksara sucinya "I" dan "Ya", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem 
Banten : Suci, Sesayut Darmawika, Tirta Siwa Merta, Sunia Merta, Maha Merta; 
Mantra : Ong padma yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, madya desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru kala byoh namo swaha. 
Hal ini didukung oleh beberapa data tambahan yang diambil dari 2 sumber yaitu 

Geguritan Gunatama 

Dalam geguritan Gunatama diceritakan bahwa I Guna Tama pergi kepada pamannya Ki Dukuh untuk meminta ilmu pengetahuan di Gunung Kusuma . Hal pertama yang oleh Ki Dukuh perintahkan kepada I Gunatama adalah agar ia belajar berkonsentrasi melalui pemahaman terhadap warna bunga. Hal itu dapat dilihat pada geguritan berikut : 
Bunga petak maring purwa, kembang jingga gnewan sami, sekar abang ring daksina, ring pascima kembang jenar, mapupul maring wayabia, Bunga ireng ring utara, ersania birune sami, mancawarnane ring madia, punika tandur ring kayun, apang urip dadi mekar, to uningin, patute anggon padapa. 
Geguritan tersebut berarti : 
“ Bunga putih ditimur, bunga jingga gnewan semua, bunga merah di selatan, yang di barat bunga kuning, berkumpul di barat laut. Bunga hitam di utara, timur laut semuanya biru, panca warna di tengah, itulah ditanam di hati, supaya hidup berkembang, ketahuilah itu, kebenaran dipakai selimut “ 

Kidung Aji Kembang 

yang dilagukan dalam upacara Ngaben ( Ngereka ) 

Ring purwa tunjunge putih, 
Hyang Iswara Dewatannya. 
Ring papusuh prehania, 
alinggih sira kalihan, 
panteste kembange petak.
Ri tembe lamun numadi suka sugih tur rahayu dana punya stiti bakti

Ring geneyan tunjunge dadu, 
Mahesora Dewatannya 
Ring peparu prenahira. 
Alinggih sira kalihan, 
Pantesta kembange dadu, 
Ri tembe lamun dumadi widagda sire ring niti, subageng sireng bhuwana

Ring daksina tunjunge merah, 
Sang Hyang Brahma Dewatannya 
Ring hati prenahira. 
Alinggih sira kalihan Pantesta kemabang merah. 
Ring tembe lamun dumadi Sampurna tur dirga yusa. Pradnyan maring tatwa aji

Ring Nriti tunjunge jingga. 
Sang Hyang Rudra Dewatannya 
Ring usus prenahira,
Alinggih sira kalihan. 
Pantes te kembange jingga, 
Ring tembe lamun numadi, Dharma sira tur susiila. Jana nuraga ring bhumi

Ring Pascima tunjunge jenar, 
Mahadewa Dewatannya 
Ring ungsilan prenahira, 
Alinggih sire kalihan, 
Pantesta kemabnge jenar, 
Ring tembe lamun dumadi, Tur Sira Cura ring rana, prajurit, watek angaji

Ring wayabya tunjunge wilis, 
Hyang Sangkara Dewatannya 
Ring lima pranahira, 
alinggih sira kalihan. 
Pantesta kembang wilis. 
Ring tembe lamun dumadi, Teleb tapa brata, gorawa satya ring bhudi

Ring utara tunjunge ireng. 
Sang Hyang Wisnu Dewatannya 
Ring ampu prenahira,
Alinggih sira kalihan. 
Panteste kembange ireng, 
Ring tembe lamun numadi, Suudira suci laksana, surupa lan sadu jati

Ring airsanya tunjunge biru . 
Sang Hyang Sambu Dewatannya 
Ring ineban prenahira,
Alinggih sira kalihan. 
Panteste kembange biru , 
Ring tembe lamun numadi, Pari purna santa Dharma, sidha sidhi sihing warga

Tengah tunjunge mancawarna, 
Sang Hyang Ciwa Dewatannya 
Tumpukung hati prenahira, 
Alinggih sira kalihan. 
Panteste kembange mancawarna , 
Ring tembe lamun numadi, Geng prabhawa sulaksana, satya bratha tapa samadi 
Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari masing-masing geguritan di atas sama dengan diskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga, tambahan yang diberikan adalah adanya akibat dari penggunaan tunjung (teratai) dengan sembilan warna tersebut adalah sebagai berikut : 
  • penggunaan tunjung warna putih akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera 
  • penggunaan tunjung warna dadu akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera 
  • penggunaan tunjung warna merah akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera 
  • penggunaan tunjung warna biru akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sempurna , dan pintar (berilmu pengetahuan) 
  • penggunaan tunjung warna jingga akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sabar serta menjalankan Dharma, susila, 
  • penggunaan tunjung warna hijau akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yangberani bertarung di medan laga, sebagai prajuurit sejati dengan watak yang sangat baik ( berpendidikan ) 
  • penggunaan tunjung warna kuning akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang tekun mengerjakan tapa , brata, dan mempunyai budi yang luhur 
  • penggunaan tunjung warna hitam akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang berkelakuan baik, suci laksananya, tampan dan dan senantiasa menimbulkan kedamaian 
  • penggunaan tunjung panca warna akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang keseluruhan hidupnya diliputi oleh kebaikan, disayangi oleh setiap orang 
Disamping hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dari 8 warna dasar yang diberikan oleh Berlin dan Kay, dalam Agama Hindu terutama dalam Dewata Nawa Sanga terdiri dari dari empat warna dasar yaitu : merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini disebabkan karena warna hijau yang berada di barat laut ( barat dan utara ) merupakan perpaduan antara kuning dan hitam ; warna dadu yang berada di tenggara ( timur dan selata ) merupakan perpaduan antara putih dengan merah ; warna jingga yang berada di barat daya ( barat dan selatan ) merupakan perpaduan antara merah dengan kuning. 

Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga

Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fuungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini : 
  1. Makna warna hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi sebagai pemelihara. Menurut makna MSA berarti arang, gelap, sedangkan makna universal memiliki makna : heightĂ greatness, massĂ  generousity, source of living, gelap, ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkisma, kesedihan, suram, gawat (kesan buruk) dan (kesan baik) berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesderhanaan India ; pemelihara kehidupan, limitless, immortal
  2. Makna warna Merah yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan, sedangkan menurut MSA berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia Ă  ß Tuhan), perang, sumber panas, benih dari kehidupan 
  3.  Makna warna Putih dengan Dewa Iswara yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih dari MSA berarti terang, salju, dan susu dan makna universal berarti penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, kekeuatan angin 
  4. Makna warna Kuning disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, sedangkan MSA berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah end of journey, passive, (bad image) ; cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, (good image) ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana, penyatuan unsur udara + air dan tanah Ă  evolutive process: 
  5. Makna warna Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam & laut, keseimbangan, kesempurnaan dalam MSA berarti tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan, kurir (messenger ), prophet
  6. Makna warna Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut, keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani. Dalam MSA biru berarti laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, senser, assosiated with the idea of birth and rebirth, sorga, langit, bangsawan, melankolis, jujur, cinta, setia, kebenaran, distincttion, excellence, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan, banjir, kesedihan
  7. Makna warna Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria. Menurut MSA, warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan dingin 
  8. Makna warna Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga menurut MSA merupkan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, the concept of circulation, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, active force, supreme creative power, illumination, penyerahan, dan pengorbanan.
  9. Makna warna Brumbun yang merupakan campuran warna putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat, pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini menurut MSA adalah makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah, sedangkan makna universalnya adalah : moving from : multiplicityĂ  unity, space Ă  spacelessness, time Ă  timelessness, a mean toward contemplation and concentration, kesucian, victory, denote the interco-munication between inferior and the supreme, 5 = health, love , controller, violent, evil power

Thursday, January 27, 2011

Dasa Bayu


Iki kaweruhakena maka purwa kanda nira andadaeken kandanta manusa ngaran, iki maka purwaning mijil kang Kanda Empat ngaran, semalihne wenang kaweruhkena iki kalinganta kuna, ngaran kanda empat semalih elingakena sadukta Bapanta lagi jajaka muang sang Ibunta lagi jajaka ika kaweruhakena ngaran semalih duk Bapanta matemi liring maring Ibunta hana mijil saking adnyana sandi iki mahangaran Sang Hyang Surya Candra, ngaran ika manerus maring panonro ngaran ika maharan Sang Hyang Arda Nareswari ngaran angganta Sang Hyang Asmara Aneleng.

Samalih wawu maucap-ucap, Bapanta ring Ibunta, hana mijil rasa saking daleming wredaya, anerus maring lambe ngaran angganta maharan Sang Hyang Panuntun Iswaramadu ngaran.

Samalih wawu Bapanta anggarepe susunira sang Ibunta, hana rasa mijil saking lepaning tangan kalih, ika maharan Sang Hyang Purusa napatan ngaran angganta maharan Sang Hyang Panguriping Jiwa ngaran.

Samalih wawu saharas Bapanta maring sang Ibunta, hana rasa umijil saking daleming taman sari, ika maran Sang Hyang Maruta Tunggal ngaran. Anerus maring tungtunging grana, ngaran angganta maharan Sang Hyang Sambu ngaran.

Wus mangkan airika matemu Bapanta ring sang Ibunta, irika matemu sarasaning istri kakung, ngaran ika maharani Sang Kama Lulut. Ngaran angganta maharani Sang Hyang Smara Gimbal ngaran.

Samalih tegep sawulan lawasnya Bapanta, ring sang Ibunta apulang sih. Hana Kama Petak mijil sakeng Bapanta, ngaran Kama Bang mijil sakeng Ibunta, ngaran ika hana mijil Surya Candra, ngaran ika maharan Sang Hyang Maya Siluman ngaran. 

Samalih wawu rong wulan lawasnya Bapanta apulang sih, hana mijil rasa bayu idep ngaran, ika ngaran Sang Hyang Smara Buncing. 

Samalih wawu telung wulan lawasnya Bapanta apulang sih hana mijil Sang Hyang Panca Wara Bhuana, ngaran ika ngaran Sang Kala Molih.

Samalih wawu petang wulan lawasnya Bapanta apulang sih, hana mijil Sang Hyang Dewanta Nawasanga, ngaran ika maharani Sang Kama Manik Saprah ngaran.

Samalih wawu limang wulan Bapanta apulang sih, hana mijil Pertiwi, muang Akasa miwah lintang tranggana, muang Mega lawan awan ngaran. Ika macampuh madeg matunggalan kabeh, ngaran ika mamurti wastu mereka jadma, ngaran ikanta Sang Kama Reka ngaran.

Wus mangkana genep saptasaning mandadya jana, wus mahulu, marambut, makarna, manetra, mahirung, macangkem, mabahu, mawak, matangan, suku, gigir mawaduk, mawedel, mabaga, mapurus, masilit, macunguh, majeriji, samalih egepsapadagingnya muang jajeron kabeh, irika maharani Sang Hyang Cili mereka mati Mahajita ngaran.

Dewatanya Sang Hyang Citra Gotra ngaran, kahemban dening babuktas bang, babu gundi ngaran, ne mangraksa Sang Hyang Mandiraksa, miwah babu galungan ngaran, ika tan kaweruhakena kandanta mandadi janma ngaran. 

Samalih wawu nem wulan lawasnya dijero weteng, malih hana sanakta mijil sakeng Ibunta, maharani babu lembana, ngaran angganta maharani I Larakuranta ngaran.

Wawu pitung wulan lawasta dijero weteng malih hana sanakta mijil saking Bapanta maharani babu abra, ngaran angganta maharani Sang Hyang Lumut ngaran.

Wawu kutus wulan lawasta dijero weteng malih hana sanakta mijil saking Bapanta maharani babu kekere, ngaran angganta maharan Sang Hyang Kamagere ngaran. Samalih irika sanakta kabeh pada asih asanak lawan sirenga muang matunggalan pangan sanakta ring sira. Pada amangan lumuting batu muang mreta titising kundi manik, ngaran merta ika maring Windurasyamuka ngaran.

Samalih wusta tinegesang sanaktane mijil irika maharani I Kaki Siwagotra mwah I nini Siwagotra sanakta ngaran angganta maharani Sang Hyang kumrencang kumrincing ,ngaran.

Samalih wusira maosanak kunit ring apuh, mangkapan ring lahar.

Sanakta, irika ang ganta maharan Sang Hyang Purwa sarikuning ngaran samalih wus kadyusing toya., irika maharan Sang Naga Gombang ngaran. Samalih sadurung ta manganing yeh susun ibunta maharani Sang Kama Ngamni, ngaran. Samalih wawu taten amanganing yeh susun, irika maharani Sang Singununing Pamangan Empehan, ngaran. Samalih wawu bias umajeng sekul, irika maharani Sang Dumasrata, ngaran. 

Wus mangkana putus mayanira magantung puserta, irika pegat puserta. Irika angganta maharan Sang menget Astiti jakti, ngaran. Samalih wus ta wruha maninggalin bape ibunta, irika maharani sire Sang Hyang panon Pandeleng, ngaran.

Samalih wuwunta weruh kumbrah mangiring, irika maharani sire Sang Hyang maya wayahan, ngaran. Samalih wuwunta malinggeb mabading tur menangis, irika maharani sira Sang Hyang Eta eto, ngaran. Samalih di wawunta keheng, irika maharani sire Sang Hyang Japamantra, ngaran. Samalih diwawunta wruh mawangsit wangsit, Irika sire maharani sire Sang Hyang Kunti Swara, ngaran. Samalih diwawunta wruh malungguh maharan sire Sang Hyang Guru, ngaran. Diwawunta wruh maningkok maharan sire Sang Hyang Pakirya- kirya, ngaran. Diwawunta wruh mbahang maharan sire Sang Hyang Unggat-unggit kawenang ngaran. Diwawunta wruh jeleg - jeleg maharan sire Sang Hyang Tangan Sidi ngaran. Diwawunta wruh angirid - angirid dodot maharan sire Sang Hyang Rare Anggon ngaran. Diwawunta wreh papalalyan, maharan sire Sang Hyang Astagina ngaran. Diwawunta wruh amanganing angganta, maharan sire Sang Hyang Astatunggal angaran. Diwawunta wruh mapayas maharan sire Sang Hyang Anuksmara-anismari ngaran. Iwawunta wruh mapisage, maharan sire Sang Hyang Ameng - ameng ngaran. Diwawunta Wruh macanda-candayan maharan sire Sang Hyang Arda Asih ngaran. Mangke ikanta kawrehakene, sakandanire duk mijil saking guwa garban sang ibunta, ngaran Samalih sawatek ta kawenangkene gering manusa padane, diliwarta solas dinane, ngaran. Diliwase ika kawenang kene gering manusa padane sapakiryaning wang ala ngaran. Samalih sajeroning solas dine, ta takewenang manuse padane mangringin awak sariranta, apan I buyut, I kompiang, muang I wayah, sami pada dane istri kakun pade ngrejeg ring awak sariranta, ngaran. Samalih wus ta nampi banten pangroras dinanta mijil, irika dane pada mantuk, ngaran.

Ikanta kawruhakena makakandanta duk wawu mijil, ngaran. Samalihnya gering sang lare sajeroning solas dina, ika gering baktan sang dumadi ngaran samalihyanta sang dumadi makta geringnya ika gering sanakta sane sareng mijil, ika milara ring lare ika, ngaran. Ika kawruhakena maka kakandanta wawu mijil, saking guwe garban sang ibunta, ngaran. Samalih sang lare kene gerimg lare sajeroning tigang sasihnya.

Ika Yayah Ibunya mwah sanakta wenang manunggu larenta, ngasa, widuh bang wus pinuja, basmain matampak,dara bilang sandinya, samalih digidat tangannya dumunang basmain, Ma :
“ Ih embok tunjung putih, saje keto sang ketane ento watu japan mulih kaswargan, mulih kagedong kunci, ditu ajak titiyang meme bape, disubane ya peteng, disubane ya lemah, kemo ke pasar titiyang bareng milu ditu, I meme bape disubane ya teke mulih, meme bape mangempu titiang manampak pretiwi hana durga bencana, muang makirya ala paksa ne ring titiang yan hana buta yaksa, buta yaksi, buta kala, buta dengen, muang guna tuju teluh teranjana, memaksa man ngalih tiang meme bapa mulakang ngundurang akena, wastu pada kita medek anyembah maring meme bapa kune, wastu tiang luput ati, sing teka guna sastru pada singular, ‘ ngda (nga).

Wus mangkana, malih lekasing papagerang Sanak Sang Laranenga, Sa ; Don tatwa, wus pinuja malih pak – pak sembar akeke ring sagenah larenta maturu ping tiga, ilehan. Ma ;
Om buta putih tiga, Om Am Um Mam, Om buta putih mungguhing papusuh, sumusup ring tanganta karo, Om mam ika swaranya, Om am kala brahma ring peparu, sumusup ring cangkem anerusring ati, Om um kala segara, hening ring pangadengane papageran, sumusup ring soca kalih, Om hrang om kala dengen, umungguh maring pamunggalaning pangen – angen, sumusup ring hirung kalih, pamijil sira kabeh maring gumi pertiwi, kemiten I lara gili atangi aturu, empunenden abecik, yen ana hala kira – kirane, maringlara ingsun, sira pada anulakena, mamrangana
lah poma3, sa ba ta a i.”

Samalih wusta mangkana, iki regep akena paunguwan Sang Ibunta muang ring paunguwan Bapanta, ngaran semalih paunguwan Sang Ibunta regepan ring daleming wredaya, wusta merasa ditu, malih turun akeke maring daleming segara madu, ngaran. Wusta merasa ditu, irika patasang makekalih, I Meme miwah I Bapa, patuhang cangkakan lidahta, ngaran. Wus mangkanamarasa pada dadi sanunggal. I Meme iskara ngaran I Bapa, imahet ngaran. Iki kon pada mangempu, ngaran samalih wusta marasa samangkana regepan mangempu daleming ampru, ngaran. 

Wusta merasa ditu, malih regepta sang menerus ring soca kalih, ngaran. Samalih marasa ditu, terusa kena maring tungtunging sunya tawangpangentum ngaran mijil pada mangempu ngaran.

Samalih tingkahnya mangempu, I Bapa maugemang keris I Meme magemang pedang, ngaran. Iki ta kaweruhakena, pingit dahat iki, kawhuakena sadukta wawu makerajanma. Sadukta kari di jero guwa garba Ibunta ika takawruhakena tatwanta nilih pawakan maring Hyng Ibu Pertiwi ngaran, apan mawak tunggal buana agung miwah alit, angganta naran. Ika ta kaweruhakena manilih awakte dadi janma, ngaran. Samalih panilihta kawruhakena, ngaran kulit kabeh, nilih ring pertiwi, ngaran bulunta kabeh nilih ring padang, ngaran tulang ta kabeh nilih ring kayu, ngaran daging ta kabeh nilih ring paras, ngaran muluk ta nilih ring endut, ngaran rambut ta nilih ring gulem muang awun – awun ngaran cangkem ta.


Wednesday, May 5, 2010

Mantra Hindu

Sembah Úiwa Amrta :
OM Hrāng HrÄ«ng sah paramaƛiwa-amrta ya namah.


Aturi Kang Toya Puspa, Gandhāksata, Wījā :
OM Puspa dantā ya namah. (sekar)
OM Sri Gandheƛwarya ya namah. (miyik-miyikan)
OM Kung Kumāra Wījā ya namah (Bija/Beras)
OM Ang Dhƫpa dīpa-astrā ya namah (Dupa)

Ngarga Tirta :
OM Gangga Dewi Maha punyam, Gangga salanca medini, Gangga tarangga samyuktam, Gangga dewi namu namah.
OM Úri Gangga Mahadewi, Anuksma-amrta jiwani, Ongkara aksara jiwatam, Tadda-amrta manoharam.
OM Utpeti ka suram ca, Utpeti ka tawa goras ca, Utpeti sarwa hitan ca, Utpeti Úrī wahinam ya namah swāhā.
( Raris uder kang toya ping tiga, saha uleng ning kahyun )
Mantra :
OM Bhƫr Bhuwah Swah swāhā Mahāganggayai tīrtha pawitrani ya namah swāhā.
( Raris masirat ring angga ping tiga )
Mantra :
OM Ang Brahmā-amrtā ya namah
OM Ung wisnu- amrtā ya namah
OM Mang ÄȘƛwara-amrtā ya namah

Ngaksama
Om Ksama swa mām mahādewa, Sarwa prāni hitāng karah
Māmmoca sarwa pāpebhah, Pālayaswa sadāsiwa

Om Papoham papo karmaham, Papa-atma papa sambhah wah
Trahimam pundari kaksah, Sabahya bhyantara suci.

Om Ksantawya kayiko dosah, Ksantawya waciko mama
Ksantawya manaso dosah, Tat pramadat ksama swamam.

Nunas Waranugraha
Om Anugraha manoharam, Dewa data nugrahakam
Arcanam sarwa pujanam, Namah sarwa-nugrahakam.

Om Dewa-Dewi maha siddhyam, Yadnyanta nirmala-atmakam
Laksmi siddisca dirghayu, Nirwighna sukha wreddhisca.

Om Anugraha ya namah swaha

Klik to Info :