Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Free Website Hosting
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sunday, March 23, 2014

Asal Usul buah Genitri

Sekitar 150 tahun lalu orang India itu tinggal di Kauman, Kebumen. Dia menitipkan pohon jenitri kepada seseorang santri yang mengaji di masjid daerah Kauman tersebut. Orang India itu lalu memberikan bimbingan dari mulai menanam pohonnya hingga panen buah jenitri. Orang India yang namanya diganti Mukti itu juga menampung buah jenitri untuk dibawa ke negaranya. Dia menghargai satu butir jenitri begitu tinggi. Hingga kemudian yang menanam pohon jenitri itu bertambah banyak dan lahannya makin luas. Masyarakat Desa Penusupan pun kemudian beramai-ramai menanam pohon jenitri. Cara menanam juga perlu diperhatikan. Terlebih dahulu membuat lubang selebar 30 cm, dengan kedalaman sekitar 30 cm. Lubang tersebut diberi pupuk kandang dan dibiarkan terlebih dahulu selama kurang lebih 10 hari. Selanjutnya ditanam dan diberi pupuk untuk kali pertama. Pohon jenitri juga bisa ditanam di pot Apa itu Jenidri ? Rudraksha-sebutan jenitri di India adalah tanaman setinggi 25-30 m dengan batang tegak dan bulat berwarna cokelat. Sepanjang tepi daunnya bergerigi dan meruncing di bagian ujung. Dalam bahasa India, rudraksa berasal dari kata rudra berarti Dewa Siwa dan aksa berarti mata. Sehingga arti keseluruhan: mata Siwa. Sesuai namanya, orang Hindu meyakini rudraksa sebagai air mata Dewa yang menitik ke bumi. Tetesan air mata itu tumbuh menjadi pohon rudraksa. Mata Siwa Di Indonesia, biji titisan Dewa Siwa itu populer dengan nama ganitri, genitri, atau jenitri. Indonesia merupakan pengekspor dan produksen terbesar di dunia. Pohon jenitri atau bahasa latinnya Elaeocarpus ganitrus banyak ditanam di Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Timor. Indonesia memasok 70% kebutuhan jenitri yang diekspor dalam bentuk butiran biji. Sebanyak 20% pasokan lainnya dari Nepal. Sedangkan India, negara paling banyak menggunakan rudaksa hanya memproduksi 5%. Menurut Ir. Komari, peneliti dari Pusat Penelitian Institut Teknologi Bandung, biji-biji jenitri keras dan awet, bisa digunakan untuk 8 generasi. Kecuali ukuran, setiap biji memiliki jumlah lekukan atau mukhis berbeda. Jumlahnya bervariasi mulai dari 1 hingga 21 mukhis yang memiliki perbedaan arti. INI TINGKATAN JENIDRI (Mukis yaitu jumlah serat jenidri / garis lekukannya) (Mukhis rata 2 dibawah 8) (Mukhis istimewa 8-30 makin tinggi makin langka) Semakin banyak mukhis harganya kian tinggi. Manfaat jenitri bukan sekadar alat 'hitung' dalam berdoa laiknya tasbih bagi kaum Muslim atau rosario bagi umat Nasrani. Biji jenitri juga berfungsi menghilangkan stres ???? Itu dibuktikan oleh Dr Suhas Roy dari Benaras Hindu University. Penelitiannya mengungkap “utrasum bead“ -sebutan jenitri di Amerika-biji jenitri mengirimkan sinyal secara beraturan ke jantung ketika digunakan sebagai kalung. Ia mengatur aktivitas otak yang mengarah pada kesehatan tubuh. Efek itu diperoleh lantaran biji sima-sebutan jenitri di Sulawesi Selatan-memiliki sifat kimia dan fisik berupa induksi listrik, kapasitansi listrik, pergerakan listrik, dan elektromagnetik. Karena itu biji jenitri mempengaruhi sistem otak pusat saat menyebarkan rangsangan bioelektrokimia. Hasilnya, otak merasa tenang dan menghasilkan pikiran positif. Sebetulnya, komposisi kimia jenitri tak beda jauh dengan buah lainnya. Antara lain 50,024% karbon, 17,798% hidrogen, 0,9461% nitrogen, dan 30,4531% oksigen. Beberapa elemen mikro dalam biji tanaman anggota famili Elaeocarpaceae itu adalah aluminum, kalsium, klorin, tembaga, kobalt, nikel, besi, magnesium, mangan, dan fosfor. Panasea Pembeda jenitri dan buah lain terungkap melalui riset Institut Teknologi India. Jenitri memiliki nilai spesifik gravitasi sebesar 1,2 dengan pH 4,48. Saat digunakan untuk berdoa, misalnya, jenitri memiliki daya elektromagnetik sebesar 10.000 gauss pada keseimbangan Faraday, hasil konduksi elektron alkalin. Gara-gara itulah jenitri dipercaya mengontrol tekanan darah, stres, serta berbagai penyakit mental. Jenitri juga dipercaya menyembuhkan epilepsi, asma, hipertensi, radang sendi, dan penyakit hati. Waw Cara Pakai : Ia berguna saat dikalungkan di leher ataupun diminum air rebusan. Caranya? Biji jenitri direndam semalam lalu diminum saat perut kosong. Itu terbukti efektif meredam hipertensi dan menghasilkan perasaan tenang dan damai. Dalam 7 hari, tekanan darah turun bila dibarengi dengan mengalungkan jenitri di leher. Khasiat lain, jenitri berfungsi sebagai pelindung tubuh dari bakteri, kanker, dan pembengkakan. Begitulah riset sahih Singh RK dari Departemen Farmakologi, Banaras Hindu University, India. Ia menggunakan berbagai larutan seperti petroleum eter, benzena, kloroform, asetone, dan etanol untuk melarutkan 200 mg/kg buah jenitri kering. Larutan jenitri hasil perendaman selama 30-45 menit itu menunjukkan sifat antipembengkakan radang akut dan nonakut pada tikus yang dilukai. Di luar itu, jenitri menghilangkan sakit kepala alias antidepresan dan antiborok pada tikus terinjeksi. Uji praklinis yang melibatkan babi sebagai satwa percobaan, membuktikan jenitri mencegah kerusakan paru-paru. Sebelumnya, babi diinduksi pemicu luka, histamin, dan asetilkoline aerosol. Meski diberi zat perusak paru-paru, organ pernapasan babi-babi itu tetap baik. Duduk perkaranya karena glikosida, steroid, alkaloid, dan flavonoid yang terkandung dalam jenitri melindungi paru-paru. Keempat zat organik itu juga bersifat antibakteri. Terhitung 28 jenis bakteri gram positif dan negatif enyah oleh ekstrak jenitri antara lain Salmonella typhimurium, Morganella morganii, Plesiomonas shigelloides, Shigella flexnerii, dan Shigela sonneii. Waw mantep gan !!!! Menurut A B. Ray dari Department of Medicinal Chemistry, Banaras Hindu University, India, alkaloid yang terkandung dalam jenitri: pseudoepi-isoelaeocarpilin, rudrakine, elaeocarpine, isoelaeocarpine, dan elaeocarpiline. Senyawa itu berkhasiat meluruhkan lemak badan. Caranya, 25 gram buah Elaeocarpus ganitrus kering, dicuci dan direbus dalam 1 gelas air sampai air rebusan tersisa separuh. Setelah air rebusan dingin, saring, lalu minum sekaligus. lagi dah!!!! Pengisap polutan Cuma itu faedah genitri? Ada lagi peran lain yang dimainkan oleh genitri sebagaimana hasil riset Dwiarum Setyoningtyas dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung: jenitri sebagai penyerap polutan. Ia membandingkan konsentrasi gas sulfur oksida, nitrogen oksida, dan karbon monoksida dalam kotak kaca berisi tumbuhan ganatri dengan kotak tanpa tumbuhan. Ke dalam kedua kotak kaca diembuskan emisi gas buang dari hasil pembakaran tiga jenis bahan bakar yang memiliki kandungan biodiesel yang berbeda. Yaitu 10% biodiesel (B-10), 5% biodiesel (B-5), dan 0% biodiesel (B-0) sebagai pembanding. Hasilnya, tingkat pencemaran dari ketiga jenis emisi bahan bakar dalam kotak kaca berisi jenitri tercatat lebih rendah (sulfur oksida 0,81 ? 0,38 ppm, nitrogen oksida 0,49 ? 0,01 ppm, dan karbon monoksida 1,36 ? 0,71 ppm). Bandingkan dengan kotak kaca tanpa jenitri yang pencemarannya lebih tinggi. Untuk ke-3 zat kimia itu masing-masing 5,15 ? 1,77 ppm, 0,75 ? 0,15 ppm, dan 2,34 ? 1,36 ppm. Kesimpulannya genitri berperan menurunkan tingkat pencemaran.

Saturday, September 17, 2011

Konflik adat di Budaga-Kemoning

Konflik Budaga-Kemoning

13 April 2011
Riak-riak ketegangan muncul antara Kemoning - Budaga, saling klaim keberadaan Pura Dalem, Pura Prajapati, dan setra.

23 April 2011
Pemasangan baliho oleh Budaga dibalas warga Kemoning.
Paruman menyepakati kasus ini diserahkan ke bupati.

22 Juni 2011
Kedua kubu nyaris bentrok. Warga Budaga sempat menduduki jalan masuk ke Pura Dalem didesak mundur oleh warga Kemoning yang membawa senjata.

24 Juni 2011
Kedua kubu masih tegang.

30 Juni 2011
Bendesa Adat Kemoning, I Wayan Mustika, dilaporkan ke polisi dalam kasus rebutan Pura Dalem. Kedua kubu kembali tegang.

10 Juli 2011
Ketegangan saat pengabenan jenazah seorang warga Budaga, Wayan Pande.

12 Agustus 2011
Lahan kuburan yang disengketakan dijaga ketat pihak Brimob Polda Bali pascapenguburan jenazah Ni Wayan Norsi, asal Budaga.

17 September 2011
Bentrok terbuka, satu tewas, puluhan luka-luka.(sumber )

Dari semua kasus-kasus adat yang terjadi di Bali belakangan ini menandakan Orang-orang Bali kini telah pintar-pintar.Pintar bertengkar dengan sesama semeton Bali.Kemana "AJEG BALI"yang selalu di gembar-gemborkan....?
Kemana Arti dan Makna "Tatwam Asi" selama ini...?
Mari kita renungkan bersama.

Wednesday, October 27, 2010

Bencana Alam

Bencana demi bencana alam terjadi dan melanda bangsa ini,Semua bencana datang silih berganti.Tidakkah pernah kita pikirkan bersama,alam ini mulai murka dengan kerakusan manusia...?
Orang-orang yang punya kuasa bertidak semaunya,dengan mengatasnamakan agama,mereka menindas sesama.
Mungkin arwah para pejuang kemerdekaan Ri mulai geram dengan pemerintahan jaman sekarang.
Lagu kebangsaan "INDONESIA RAYA "sangat jarang terdengar lagi.
Masih Ingatkah kita bahwa  NEGARA INDONESIA berdasarkan "PANCASILA"...?
Atau kita sudah lupa akan bunyi dan arti dari isi PANCASILA...
Masihkan NEGARA INDONESIA Berlambangkan 
"BURUNG GARUDA"...?
Lalu kemana LAGU-LAGU NASIONAL INDONESIA....rasa Nasionalisme orang-orang INDONESIA mungkin telah meredup.
Mari kita Renungkan bersama...

Monday, May 31, 2010

Jaman Kali Yuga/Jaman Edan

Kali Yuga.
Kali Yuga iku saktin artha ne mamurti kasaratang kautamayang,
naut kayun buduh paling tan ngetangang nyama-braya,
ngitungang raga padidi.
(Jaman Kali Yuga kekuatan harta yang berkuasa,dikejar dan diutamakan,
menguasai keinginan,membuat ke gila-gilaan,tidak menghiraukan saudara
ataupun warga,mementingkan diri sendiri )

Kali Yuga.
Nanging sang ajeg ring kayun,tan obah sajeroning margi,
uning ngiket bayun indriya,ngesorang saktine artha,nuluh margi utama,
Dharmane pinaka kanti.
( Namun mereka yang teguh pada iman,takkan berubah dalam prilaku,
dapat menahan kekuatan nafsu indriyanya,menaklukkan kekuatan artha,
tetap berada pada jalan utama,Dharmalah sebagai pelindungnya.)

Jamam Edan.
Amenangi jaman edan,ewuh aya ing pambudi,milu edan nora tahan,yan tan
milu anglakoni,boyo kaaduman melik,kaliran wekasan ipun,iku karsa Hyang Titah
begja begjane kang lali luwih begja,kang eling lawan waspada,
(Kehidupan dijaman edan amat menyusahkan,bila mengikuti,tidak tahan,
jika tidaktidak kebagian,akhirnya menjadi kelaparan itulah
kehendak Beliau,namun,sebahagia-bahagianya orang lupa,
masih lebih bahagia orang yang sadar dan waspada.)

Jaman Edan.
Sakadara linakonan,Muung tumindak mara ati,angger tan dadi prakara,
Karana wirayat muni,ichiyar iku yekti,pamilihing reh rahayu,
sinambi budi-daya,kanti awas lawan eling,kang kaesthi antuka parmaning suksma.
(Apapun yang dilaksanakan membuat kesenangan hati,agar tidak menimbulkan
persoalan-perkara,inilah petuah dari dahulu,manusia mesti bericktiyar
,memilih jalan rahayu,serta budi pekerti baik,selalu sadar dan eling untuk mendapatkan
Tuhan.)

Serat Kalatida.
Ujaring Panitisastra,Awewarah asung peling,ing jaman keneng musibah,
Wong ambeg jadmika kontit,mengkono yen niteni,Pedah apa amituha,pawarta lolawara,
mundak agreranta ati,Angurbaya angiket carita kuna.
(Menurut Nitisastra,sudah memberikan tanda,Dijaman penuh musibah ini,
Orang yang berbudi disingkirkan,Begitulah bila direnungkan,
apalah gunanya menyakini kabar angin itu,yang hanya merepotkan
menyusahkan hati,Sebaiknya,berkaryalah dengan selalu ingat pada sejarah-budaya)

Sadba Tama.
Rasaning tyas kayunyung,Angayomi lukitaning kalbu,Gambirwana kalawan
hening ing hati,Kabakta kudu pitutur,sumingkiring reh tyas mirong.
(Tumbuhkanlah suatu keinginan,mengayomi hati sanubari,dengan ketenangan
dan keheningan hati,Guna memberikan petuah,agar dapat menyingkirkan
sesuatu yang salah )

Serat Kalitida.
Den samya amituhu,ing sajeroing jaman kala Bendu,
Yogya samyanyenyuda hardaning hati,kang anuntun mring pakewuh,
uwohing panggawe awon.
(Diharapkan semuanya untuk maklum dan sadar,diwaktu jaman kala Bendu
sebaiknya mengekang nafsu pribadi,yang dapat menimbulkan kesusahan,
akhirnya berakibat buruk.)

Serat Kalatida.
Ngajapa tyas rahayu,ngayomana sesameng tumuwuh,
wahanane ngendhakke angkara klindhih,ngendhangken pakerti dudu,
dinulu luwar tibeng doh.
(Sebaiknya senantiasa berbuat kebajikan,memberikan perlindungan pada semua yang hidup,
sebagai sikap prilaku melenyapkan angkara,melenyapkan perbuatan jahat,
sifat itulah dibuang jauh.)

Tanah Lapang tanpa rumput.
Apabila lapangan tanpa rumput,binatang dan ayam tidak akan menghampiri,
bila sungai tanpa air,ikan dan burung pasti akan pergi jauh,
Satria mengandalkan marah,ditinggal istrinya,Raja yang angkara murka,
akan  ditinggalkan oleh rakyatnya.Penyebabnya,karena tidak sesuai dengan kewajibannya.

Wednesday, May 5, 2010

Ciri2 Jagat

Ciri-ciri jagat menurut Catur Yuga
( Koleksi Puri Ibah Campuahan Ubud.Gianyar.Bali)

Catur Yuga Adalah Empat Jaman yang ada di Dunia.
1.Kretha Yuga Lamanya 4.444.400 Tahun
2.Traitha Yuga Lamanya 3.333.300 Tahun
3.Dwapara Yuga Lamanya 2.222.200 Tahun
4.Kali Yuga Lamanya 1.111.100 Tahun

Ciri-Ciri jaman Kretha Yuga.
*Keadaan aman,sejahtera,sedikit perubahan
*Jaman damai temtram tidak ada yang sakit
*Tidak ada bayi yang meninggal
*Dumia tidak mengenal perbedaan,seperti suka duka,sakit,lapar
*Umur manusia sampai 100.000 tahun

Ciri-ciri jaman traitha Yuga
*Mendung tebal,hulan lebat
*Manusia selalu bersenang-senang,tidak mengenal umur tua
*Umur manusia sampai 500 tahun

Ciri-ciri jaman Dwapara Yuga
*Umur manusia sampai 200 tahun
*manusia pintar-pintar,pintar berperang,tahu tentang ciri-ciri,tidak mengejar hawa nafsu
*Sayang dengan orang yang lagi sengsara
*Kasian kepada orang yang tahu balas budi
*Tahu mana yang salah dan benar
*Tidak berani melanggar peraturan/undang-undang
*Pelaksanaan tanpa mengenal pamrih
*Melaksanakan aturan-aturan negara
*Tidak berani melanggar ajaran agama
*Setia kepada perkataan,Tahu mana yang baik dan benar
*Dunia aman dan sentosa

Ciri-ciri jaman Kali Yuga
*Umur manusia 100 tahun
*Suka hura-hura,ribut-ribut
*Manusia lupa pada kluarga,suami/istri,lupa denga leluhur.
*Suka berkelahi dengan sesama
*Yang benar disalahkan,yang salah menjadi benar
*Manusia sulit mencari tujuan hidup yang utama
*Pelaksanaan manusia plin-plan,bingung
*Sifat manusia sombong,angkuh,iri hati,serakah
*Berbicara keras
*Manusia cepat tua.
Alam akan mengembalikan semuanya keasal.Dan akan menciptakan dunia baru.

Saturday, February 27, 2010

Friday, February 19, 2010

Antara Sorga Neraka dan Moksa

Hampir setiap ajaran agama di muka bumi ini mengenal adanya Sorga dan Neraka, tetapi hanya ajaran Hindu yang mengenal Moksa. Apakah Sorga dan Neraka itu merupakan sebuah tempat? Kalau merupakan sebuah tempat, pertanyaan kita berikutnya adalah: di manakah tempat itu berada? Benarkah Sorga dan Neraka itu ada? Bagaimanakah keadaan tempat-tempat tersebut? Siapakah yang sudah pernah ke sana dan mau menceritakannya?

Selama ini kebanyakan orang meyakini bahwa Sorga atau Neraka merupakan tempat yang akan kita tuju setelah kita meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sorga merupakan tempat yang penuh kenikmatan, suasana menyenangkan, banyak bidadari yang tentunya cantik-cantik, penuh cinta dan kasih sayang, serta hal-hal yang menyenangkan lainnya. Sebaliknya, neraka merupakan tempat orang-orang yang menderita, sengsara, penuh siksaan, dan hal-hal yang menyedihkan lainnya.

Sampai saat ini saya belum pernah berjumpa dengan orang yang sudah pernah pergi ke Sorga ataupun sudah pernah mampir ke Neraka. Saya juga belum pernah berkunjung ke tempat tersebut. Oleh karena itu, saya tidak akan menceritakan bagaimana kondisi Sorga dan Neraka yang merupakan domisili setelah kematian itu. Akan tetapi, saya akan membahas analogi dari Sorga dan Neraka dalam kehidupan nyata sehari-hari. Mari kita simak ilustrasi berikut.

Tyaga (bukan nama sebenarnya) adalah seorang gadis manis yang baru menginjak usia remaja. Seperti gadis-gadis lain seusianya, Tyaga mulai menjalin cinta kasih dengan seorang pemuda. Sebut saja namanya Suastantra. Walaupun mereka masih dalam usia remaja, tetapi jalinan kasih di antara mereka sangat serasi dan indah. Tyaga menyayangi Suastantra dengan sepenuh hati. Suastantra setali tiga uang. Dia sangat mengasihi Tyaga.

Dalam keseharian, Tyaga menjelma menjadi gadis yang periang, berperilaku menyenangkan, suka menolong sesama, gampang memaafkan orang lain, serta hidupnya bahagia. Orang-orang pun suka bergaul dengan Tyaga.

Kalau dibandingkan dengan suasana kehidupan di Sorga seperti yang diajarkan agama selama ini, kehidupan yang dialami Tyaga dapat kita katakan sebagai Sorga. Tyaga sudah mencapai Sorga dalam kehidupannya sekarang. Hidupnya berkelimpahan cinta kasih, kesenangan, di kelilingi oleh orang-orang yang menyenangkan, serta hal-hal yang menyenangkan lainnya.

Pada suatu hari, Tyaga mengajak pacarnya untuk jalan-jalan naik motor ke luar kota. Awalnya Suastantra menolak secara halus karena masih harus mengerjakan tugas sekolah. Akan tetapi, berhubung Tyaga mendesaknya, akhirnya mereka dengan berboncengan motor pergi ke luar kota untuk memadu kasih. Dengan laju motor yang biasa-biasa saja, tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang sebuah truk dengan kecepatan sangat tinggi menabrak sepeda motor mereka. Tabrakan pun tidak bisa dihindarkan.

Akibat dari kejadian itu, Suastantra terluka parah di kepalanya, sedangkan Tyaga mengalami luka-luka ringan, sedangkan motornya hancur. Mereka cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Setelah mengalami perawatan cukup intensif selama beberapa hari, akhirnya Suastantra meninggal dunia.

Betapa sedih hati Tyaga ditinggal kekasihnya untuk selama-lamanya. Di samping sedih yang mendalam, ada perasaaan yang bersalah di hatinya. Musibah ini berawal dari ajakan dirinya untuk pergi ke luar kota. Rasa sedihnya bertambah tatkala dia ingat bahwa kekasihnya itu sebenarnya sudah menolak, tetapi karena dia yang mendesak, maka pergilah mereka berdua naik motor hingga ditabrak truk yang sopirnya ugal-ugalan itu. Tyaga menjadi benci pada dirinya sendiri. Rasa benci juga timbul kepada sopir truk yang tidak bertanggung jawab yang karena ulahnya telah merenggut nyawa kekasihnya.

Perasaan sedih yang timbul, rasa bersalah, rasa benci pada diri sendiri dan kepada sopir truk terus menyiksa dirinya. Inilah Neraka yang sesungguhnya.

Bagaimana caranya dia lepas dari Neraka ini?

Untuk membebaskan dari rasa bersalah ini Tyaga harus bisa memaafkan dirinya. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk dapat memaafkan diri sendiri. Pertama, Tyaga sebaiknya memohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Walaupun Tuhan sudah pasti mengampuni, tetapi tindakan memohon ampun merupakan jembatan emas untuk bisa memaafkan diri sendiri. Tanpa meminta maaf pun sebenarnya Tuhan sudah memaafkan, tetapi tidak demikian dengan diri kita. Memaafkan diri sendiri memerlukan proses.

Setelah memohon ampun kepada Tuhan, tindakan berikut yang sebaiknya dilakukan Tyaga adalah memohon maaf kepada keluarga kekasihnya. Memohon maaf kepada orang lain merupakan cara ampuh untuk mempercepat proses memaafkan diri sendiri.

Dengan memohon ampun kepada Tuhan dan memohon maaf kepada orang lain, maka proses melepaskan diri dari rasa bersalah akan terjadi. Perlahan-lahan rasa bersalah itu akan lepas untuk kemudian akan menjadi terbebaskan dari rasa bersalah. Tyaga akan terbebaskan dari beban rasa bersalah yang menghimpitnya.

Bagaiamana dengan perasaan bencinya kepada sopir truk? Rasa benci ini akan terus membebani Tyaga sepanjang Tyaga belum memaafkannya. Selama belum memaafkan, maka Tyaga akan tersiksa oleh rasa benci tersebut. Oleh karena itu, dia perlu dengan ikhlas memaafkan sang sopir. Memaafkan orang lain berarti proses melepaskan beban berat berupa rasa kebencian pada orang lain. Dengan memaafkan, Tyaga akan terbebas dari beban. Memaafkan sejatinya adalah membebaskan diri dari siksaan.

Kedua tindakan Tyaga, yakni memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain akan mampu membebaskan Tyaga dari siksaan Neraka di dunia nyata ini. Apabila Tyaga berhasil terbebas dan terlepas dari ikatan-ikatan ini untuk selamanya, maka Tyaga sudah mampu mencapai Moksa karena kata Moksa sendiri sebenarnya berarti bebas atau lepas. Tyaga sudah bisa melepaskan beban-beban yang menghimpit, sekaligus membebaskan dirinya dari beban tersebut. Tyaga sudah mencapai Suka Tanpawali Duka.

Tri Kaya Parisuda

Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berperilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ada tiga jenis tingkah laku yang disucikan yang dalam Ajaran Hindu disebut Tri Kaya Parisudha.

Tri Kaya Parisudha terdiri dari Manacika Parisudha, Wacika Parisudha, dan Kayika Parisudha. Manacika Parisudha artinya umat Hindu hendaknya senantiasa mempunyai pikiran-pikiran yang baik, yang positif, dan benar.

Wednesday, February 10, 2010

Karma Bagai segelas Air

Karma bagai segelas air

Sebagai kelahiran di alam manusia, kita masih memiliki buah karma dari seluruh perbuatan masa lampau kehidupan kita.
Dimana karma baik akan menjadikan kehidupan kita lebih bahagia,
dan karma buruk akan membuat kehidupan kita lebih menderita.

Memiliki berkah karma baik dalam kehidupan ini, merupakan suatu berkah yang sangat luar biasa.
Dengan memiliki berkah karma baik dalam kehiduan sekarang ini,
 berarti kita juga memiliki kesempatan untuk menanam kembali bibit karma baik sebanyak-banyak.
Sehingga kehidupan yang akan datang, dapat lebih baik lagi.

Bagaikan seorang yang memiliki berkah rejeki karma baik,
sehingga kehidupan yang sekarang memiliki berkah materi yang lebih.
Berkah yang dimiliki seharusnya dapat digunakan kembali untuk menanam karma baik. Dengan rezeki yang sedikit berlimpah,
berarti mereka mempunyai modal untuk dapat lebih beramal dan membantu mahluk lain yang membutuhkannya.

Sehingga segala perbuatan amal dan bantuan yang merekan lakukan,
bagaikan mempersiapkan harta warisan untuk kehidupan yang akan datang.
 Dengan demikian, dirinya telah terus menjaga dan memiliki warisan berkah yang tidak putus disetiap
kehidupan yang akan datang hingga Pencapaian Agung Sejati.

Tetapi bagaimana dengan karma buruk yang kita miliki dari kehidupan kita yang masa lampau ?

Pada awal kelahiran manusia, tubuh bagaikan satu gelas yang hanya masih memiliki sedikit air
 didalamnya dengan sedikit rasa asin.

Selanjutnya segala perbuatan, ucapan, dan pikiran manusia yang akan menentukan rasa yang
sesungguhnya dari air didalam gelas ini.

Dengan berbuat kebaikan, kita mengumpulkan karma baik bagaikan menuang sesendok air putih kedalam gelas.
Dengan berbuat keburukan, kita mendapat karma buruk, bagaikan menuang sesendok garam kedalam gelas.

Walau kita telah memiliki rasa asin sejak awal kelahiran kita,
 tetapi kita jangan berputus asa untuk berusaha menuangkan air putih kedalam gelas kita.
 Walau garam yang telah didalam gelas tidak dapat dikeluarkan lagi,
tetapi dengan lebih banyak air putih yang kita tuangkan ke dalam gelas ini.
Rasa asin tersebut akan semakin jauh berkurang, bahkan tidak melepas kemungkian akan benar-benar
 dapat terasa bagaikan tawar kembali karena jumlah air yang semakin banyak.

Saya mengajak para umat untuk selalu merenungkan ini.

Sebagai manusia kadang telah berbuat kesalahan, jangan kita menyesalkan yang berkepanjangan. Tetapi selanjutnya harus berusaha mengumpulkan karma baik sebanyak-banyak untuk mengimbangi perbuatan buruk kita. Dan tentunya kita harus menghindari perbuatan buruk tersebut.

Wednesday, January 20, 2010

Kayu Bertuah.





BUN SAT MING MANG                              


Gunan Ipun :
           
*Penolak Desti,
            *Pengijeng Umah,
            *Jejaton di Tamba,
            *Angen Asab-asaban,
            *Magenah di sang sabuk kasa.




KAYU NYUNGSANG


Gunang ipun :
           
            *Untuk bisnis/berdagang,
            *Penolak ilmu hitam,
            *Penolak guna-guna.







Gunan Ipun :
           
            *Pengasih/Kewibawaan,
            *Mencari kawan,
            *Paling istimewa dipakai penangkal ilmu hitam,
            *Pengijeng Umah,
            *Dapat memusnahkan ilmu hitam.









Friday, January 8, 2010

Menakar Kebenaran

"Prihen temen dhrama dumaranang sarat
Saraga sang sadhu sireka tutana
Tanartha tan kama pidonia tan yasa
Ya sakti sang sajjana dharma raksaka."


Artinya :
Uttamakanlah kebenaran dengan sungguh-sungguh
Kepribadian orang budiman yang patut ditiru
Bukan keinginan, bukan balas jasa yang menjadi tujuan
Kekuatan orang yang berbuat kebaikan adalah kebenaran dipegang teguh
(Kakawin Ramayana, Sargha 24.89).

Mendengar kata kebenaran akan terlintas dalam pikiran adalah sesuatu yang baik dan disetujui oleh banyak orang, dibela oleh banyak orang dan banyak yang setuju jika yang benar tersebut dijadikan ukuran bersama demi ketentraman hidup di dunia.

Dalam prakteknya, kebenaran tidak dapat diukur dengan takaran yang sama antara satu tempat dengan tempat lainnya, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, antara satu Negara dengan Negara lainnya. Perbedaan ukuran yang dipakai dalam menakar kebenaran disebabkan oleh pandangan hidup kolektif yang dianggap baik dan benar dalam suatu masyarakat tertentu, tidak sepenuhnya dapat dianggap baik dan benar pada masyarakat lainnya.

Monday, December 21, 2009

Mencari Jati Diri

Hampir setiap jengkal tanah yang ada di Bali merupakan bagian dari jejak suci perjalanan orang-orang suci yang datang ke Bali. Salah satunya, Dang Hyang Dwijendra. Hal ini senantiasa memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi warga hingga kini. Di manapun beliau berada, membuat suatu perubahan yang mempunyai nilai religius sangat tinggi. Salah satunya, Pura Tugu yang terletak di Desa Tegal Tugu, Kecamatan Gianyar. Apa dan bagaimana makna dan filosofi pelinggih yang ada di Pura Tugu?

KATA “tugu” dari hahasa Jawa disamakan dengan candi. Dan, hal tersebut juga benar adanya sebagaimana yang terdapat di Pura Tugu. Pelinggih Batara Sakti Wawu Rauh (Dang Hyang Dwijendra), dibuat menyerupai candi. Banyak orang yang belum mengetahui tentang keberadaan Pura Tugu. Namun keberadaan pura ini tercantum dalam Dwijendra Tatwa.
Nama Pura Tugu ini sangat jelas sekali disebutkan keberadaannya yang berkaitan dengan perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra saat ada di Gianyar. Selain tercantum dalam Dwijendra Tatwa, keberadaan Pura Tugu ini, menurut Dewa Mangku Tugu, disinyalir juga tercatat dalam prasasti yang ada di Puri Gianyar.

Dewa Mangku menjelaskan bahwa Pura Tugu yang terletak di pinggiran Tukad Cangkir merupakan pura yang masih diempon oleh pihak Puri Gianyar hingga saat ini. Selain Pura Tugu, di areal pura tersebut masih berkaitan dengan keberadaan Pura Melanting dan Pura Dalem Segening yang merupakan pura dari trah Dewa Agung Manggis, Raja Puri Gianyar. Hal ini juga dapat dilihat dari keberadaan pohon manggis di areal pura tersebut.
Pohon yang jumlahnya sebanyak empat buah ini, konon telah berusia ratusan tahun. Dewa Mangku yang berasal dari keluarga pemangku secara turun-temurun sebagai pengayah di pura tersebut, mengakui seingatnya bahwa pohon tersebut telah ada dan ukurannya tidak jauh mengalami perubahan.

Pura Tugu berada di hulu Desa Tegal Tugu. Tepatnya di sebelah timur lapangan Tegal Tugu. Pura ini dilihat dari luar tampak sekali mempunyai perbedaan dengan pura lainnya. Khususnya, pada bebentaran angkul-angkul pura.

Saat memasuki pura tersebut sama sekali pada angkul-angkul pura tidak ada gelung kori (atap). Konon, arsitektur Candi Bentar tersebut berkaitan dengan kedatangan Dang Hyang Dwijendra ke pura tersebut. Meski demikian, di Pura Tugu ini tetap berkonsepkan pada Tri Mandala. Pura Tugu terdiri atas bagian utama mandala, madya mandala dan nista mandala.
Di bagian utama mandala (jeroan) terdapat sejumlah pelinggih. Di antaranya, Pelinggih Batara Sakti Wawu Rauh yang bentuknya menyerupai candi dengan dua pelinggih pengabih. Di depan pelinggih candi terdapat pelinggih Gedong Betel yang merupakan tempat berias tatkala diselenggarakan piodalan. Di bagian jeroan juga ada Pelinggih Ulun Suwi dan Pelinggih Batara Segara, serta sejumlah pelinggih lainnya. Sementara di bagian madya mandala sama sekali tidak terdapat pelinggih. Namun dua pengapit dan dua sedan tampak pada bagian nista madala pura. Selain itu, di bagian utama mandala juga terdapat bangunan Pura Dalem Segening. Letaknya yang dalam satu kawasan ini hanya dibatasi dengan tembok penyengker.

Pelaksanaan piodalan di Pura Tugu dilakukan setiap Anggarkasih, Medangsia. Warga yang mengaturkan bakti selain dari Desa Tegal Tugu, juga banyak pemedek dari luar Gianyar yang datang saat piodalan. “Bukan saja di setiap diaturkan piodalan, setiap hari purnama dan tilem juga ada warga yang datang untuk bersembahyang,” ujar pemangku pura.

Bahkan, kini bayak warga yang berasal dari golongan brahmana datang ke Pura Tugu guna melakukan persembahyangan. Dalam pura tugu tersebut, salah satu pelinggih yang ada juga merupakan pesimpangan Batara Sakti yang berstana di Pura Manuaba.
Kilas balik keberadaan Pura Tugu, diceritakan bahwa dalam perjalanan Dang Hyang Dwijendra yang sampai di suatu pemukiman penduduk. Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, beliau ingin beristirahat dan saat itu berhenti di luar suatu pura kahyangan. Tiba-tiba, di tengah peristirahatan beliau datang seorang pemangku (pendeta pura) dan dalam pura setelah menyapu dan melalukan pembersihan, menghampiri Dang Hyang Dwijendra yang berhenti di luar pura. Setelah bertemu, pemangku pura tersebut kemudian menyuruh beliau untuk menyembah ke dalam pura. Dang Hyang Dwijendra saat itu tak membantah dan menuruti permintaan dari pemangku untuk menyembah di pura tersebut. Bergegaslah beliau masuk ke pura diiringi oleh pemangku. Beliau bersila berhadapan dengan bangunan pelinggih yang ada di pura tersebut lain melakukan yoga.

Tiba-tiba saja bangunan pelinggih tersebut rusak, membuat pemangku terkejut disertai dengan perasaan terharu melihat kenyataan tersebut. Pemangku pun menangis dan meminta maaf atas kesalahannya dan memohon agar bangunan pelinggih tersebut dikembalikan lagi seperti semula.

Dengan kesucian dan yoga dari Dang Hyang Dwijendra, akhirnya bangunan pelinggih (Gedong Betel) yang ada di pura tersebut kembali seperti semula. Pada kesempatan tersebut, atas kesucian dan kesaktian dari Dang Hyang Dwijendra, beliau memberikan kancing gelung yang dimilikinya kepada pemangku pura. Kancing gelung tersebut agar ditempatkan di pura yang diemponnya, yang kini bernama Pura Tugu.

Sebagaimana biasanya, setiap piodalan di Pura Tugu, menurut penuturan tetua di desa setempat, kancing gelung tersebut dipendak (dijemput) untuk diupacarai di pura dari tempat panyimpenannya di Puri Gianyar. Hal itu pun berlaku hingga kini.
Dan sepenggalan cerita keberadaan Pura Tugu, betapa makna yang dalam dari apa yang terjadi saat itu. Betapa kesucian dari yoga mempunyai nilai yang sangat tinggi. Demikian pula dalam hal kerendahan hati yang harus kita miliki dalam menemukan jati diri. Meski dalam hal ini beliau mengetahui apa yang akan terjadi pada pelinggih pura tersebut di saat akan melakukan persembahyangan di pura yang diempon oleh pemangku tersebut.
Sementara itu, selama sebagai pengayah di Pura Tugu, Dewa Aji Mangku mengakui bahwa di samping sering didatangi warga setempat dari luar daerah banyak pula pejabat yang tangkil ke pura tersebut. Mereka datang dengan membawa sesajen melakukan persembahyangan di depan Pelinggih Dang Hyang Dwijendra. Kedatangan mereka sebagaimana warga lainnya yang memohon keselamatan.

Apa permohonan mereka di luar itu, Dewa Aji Mangku mengaku tidak tahu. “Apa maksud dan tujuan dari mereka yang datang sama sekali tidak diketahui,” ujarnya. Namun, di Pura Tugu juga merupakan tempat bagi calon pandita (pedanda). Di antara calon orang suci ini datang melakukan persembahyangan dengan sesajen lengkap untuk meminta restu serta pawintenan termasuk padiksaan.

Bahkan, ada juga pedanda yang datang ke pura tersebut hanya untuk mempasupati buku-buku pelajarannya, serta ngewintenan bajra yang dipergunakan untuk melakukan proses upacara. Pura Tugu juga dipercaya sebagai pemberi berkah intelektual. Di samping kesehariiannya, siswa-siswa sekolah setempat melakukan persembahyangan, ada pula warga yang secara khusus datang ke pura untuk memohon wahyu untuk dapat sukses menyelesaikan pendidikannya.

Friday, December 18, 2009

Meditasi dengan gaya Gayatri

MEDITASI DENGAN GAYATRI MANTRA

Sudah dikatakan Gayatri mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi
pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih(tanpa garam, dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.

Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari
terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri mantra enam kali untuk pagi hari, empat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk
malam hari. Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan anda akan
terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja gayatri selama dua hari barulah anda di perkenankan untuk melakukan meditasi ternadap Gayatri mantra sebab api spirit anda sudah menyala.

Tambahan:
Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus pada hari kelahirannya. Misalnya lahir hari Senen, maka puasa dilakukan pada Senen pagi hingga Selasa pagi.

TEORI MEDITASI

Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari kain, tikar, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi relek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran berberapa detik, setelah itu ucapkan mantra "

OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah"

ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima
kali, ini bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.

Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri mantram

" OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya
dimahi, dhiyo yo nah pracodayat"

dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran suara mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan.

Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negatif, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan
dan lain-lain. Kekuatan Gayatri mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri mantra apabila dilakukan dengan baik serta
tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaiban yang tidak bisa kita sangka. Gayatri mantra bukan bekerja pada maksud si meditator namun, karunia, energy,
rahmat, dari Maha Devi Gayatri yang berhak menentukan. Bagaikan mobil, sang supirlah yang tahu kemana tujuan dari mobil itu, bukan tujuan dari mobil tersebut yang dituruti sang supir.

Energy Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan "pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada jaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran
selain getaran halus dari Gayatri mantra.

TIPS

Apa bila anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh ulah niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih , higienis, untuk diminum, lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsur cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri mantram 11 kali, setiap habis membaca gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut, hal ini sering terbutkti di daerah-daaerah terpencil. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri mantra mempu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini.


===================================================


Monday, December 14, 2009

Karma Pala

Agama Hindu mengenal hukum sebab-akibat yang disebut Karmaphala (karma = perbuatan; phala = buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil, baik atau buruk. Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah reinkarnasi)

Saturday, November 28, 2009

Kiamat 2012...?

Om Awignamastu

Percaya tidak percaya akan kiamat 2012 hendaknya kita serahkan semuanya pada Yang Kuasa.
Terlepas dari kata Kiamat.Pada hari yang lalu,Ketika kami nangkil/metirtayatra ke Pura
Muncak Sari.Penebel pada saat sembahyang Ida Sesuunan Ratu Lingsir rauh,menapak
salah seorang dasaran yang ikut pada rombongan.
Disana ada pewisik bahwa untuk Umat Hindu yang percaya hendaknya melakukan upacara
mecaru menjelang tahun 2012.Agar keseimbangan ala dapat terjaga.
Untuk lebih jelasnya tentang upacara yang dilakukan pada saat menjelang Tahun Baru 2012 dapat
ditanyakan langsung pada pemangku di Pura Luhur Muncak Sari ,Penebel...
Suksema

Om Santhi-santhi-santhi Om

Tuesday, October 20, 2009

Agama Hindu


Pendidikan agama Hindu

perlu kita tamankan dan ajarkan sejak dini untuk anak-anak.

Disamping pendidikan agama secara teori,sangat penting juga

mendidik langsung dengan melatih sembahyang di Merajan atau

di tempat-tempat suci lainya.

Agar pada nantinya genarasi muda Hindu lebih mencintai dan memahami

dengan agamanya sendiri yaitu Agama Hindu.Karena Agama Hindu sangat

luwes.Dengan konsep-konsep dasar agama Hindu hendaknya

generasi penerus

dapat mencintai alam,sesama dan Ida Sanghyang Whidi Wasa.

Sudah saatnya kita sakralkan dan lestarikan budaya dan kebudayaan Hindu

khususnya Hindu Bali Indonesia.

Perlu juga kita pikirkan dan renungkan...

Mengajarkan bahasa Bali yang juga bahasa ibu untuk anak-anak kita.

Agar pada nantinya bahasa Bali tidak menjadi sejarah.

Perlu kita tanamkan sejak dini agar generasi penerus Bali

bangga memiliki bahasa Bali.( Lihat Yang Lain )

Tuesday, October 6, 2009

Peduli sesama

Sebagaimana diketahui bersama, gemba tanggal 30 September 2009 di wilayah Sumatra Barat telah menimbulkan 700 lebih korban orang dengan 200 orang diantaranya meninggal dunia. Gempa juga menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit, dengan rusaknya ratusan rumah penduduk dan fasilitas umum lainnya.

Untuk meringankan beban para korban dan sebagai bentuk solidaritas dan keperdulian pada rekan sebangsa, Kami menerima bantuan dan uluran tangan anda untuk saudara-saudara kita di Sumatera Barat dalam bentuk uang.

Nama bank: Bank BCA
Cabang: BCA KCP Tabanan
Nama rekening: Eka Nadiwiartha I Pt
Nomor rekening: 1420-219-195

Tuesday, September 15, 2009

Tri Hita Karana


Melalui Tri Hita Karana hendaknya kehidupan ini akan terasa lebih indah,
Tanpa kita pernah sadar,konsep hidup dengan Tri Hita Karana pada saat ini
sudah mulai dilupakan.

1.Hubungan manusia dengan Tuhan.
Mungkin kita bisa menghitung dengan jari dalam satu bulan
brapa kali kita sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Atau pernahkah kita ingat akan ajaran-ajaran agama didalam
menjalani hari...?
Sudah saatnya kita mulai sadar,Demi terujudnya kehidupan
yang indah damai,mulai saat ini kita tingkatkan
nilai sepiritual kita untuk menjalankan Dharma,sujud
bakti kita kepada Yang Maha Kuasa hendaknya kita lakukan dengan
tulus dan iklas.Mohon kepada yang maha kuasa akar selalu dituntung
sesuai dengan ajaran Dhrama untuk menuju kebahagiaan.
Dan jangan pernah dilupakan semua yang ada di Bumi ioni adalah Kuasa
Dari Tuhan Yang Maha Esa.

2.Hubungan Manusia dengan manusia.
Dijaman Kali Yuga saat ini,mungkin jarang kita dapatkan lagi
manusia yang mau mengerti akan sesama.Keangkuhan,ke Ego an telah menguasai
manusia saat ini.
Pernahkah kita ingat dan menyadari"aku adalah kamu,kamu adalah aku"...?
Luangkan waktu kita sejenak untuk merenung apa yang telah kita
lakukan untuk sesama kita...!

3.Hubungan manusia dengan alam.
Hutan,tentunya kita semua sudah tahu,setiap hari,setiap bulan,dan setiap tahun
hutan kita selalu bertambah kerusakannya.
Alam yang terus mengalami kehancuran ditengah keserakahan manusia.
Sebelum alam mulai murka,hendaknya kita mulai dari saat ini.
Lestarikan alam,jaga dan rawat alam ini seperti kita merawat diri kita sendiri.
Lakukan yang terbaik untuk alam ini.
Atau renungkan diri kita sejenak,apa yang telah pernah kita lakukan untuk alam ini...?

Pendek kata "Melalui konsep hidup Tri Hita Karana "
Kita wujudkan kehidupan yang lebih bahagia.

Renungkan...!

Friday, September 11, 2009

Tri Hita Karana


Melalui Tri Hita Karana hendaknya kehidupan ini akan terasa lebih indah,
Tanpa kita pernah sadar,konsep hidup dengan Tri Hita Karana pada saat ini
sudah mulai dilupakan.

1.Hubungan manusia dengan Tuhan.
Mungkin kita bisa menghitung dengan jari dalam satu bulan
brapa kali kita sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Atau pernahkah kita ingat akan ajaran-ajaran agama didalam
menjalani hari...?
Sudah saatnya kita mulai sadar,Demi terujudnya kehidupan
yang indah damai,mulai saat ini kita tingkatkan
nilai sepiritual kita untuk menjalankan Dharma,sujud
bakti kita kepada Yang Maha Kuasa hendaknya kita lakukan dengan
tulus dan iklas.Mohon kepada yang maha kuasa akar selalu dituntung
sesuai dengan ajaran Dhrama untuk menuju kebahagiaan.
Dan jangan pernah dilupakan semua yang ada di Bumi ioni adalah Kuasa
Dari Tuhan Yang Maha Esa.

2.Hubungan Manusia dengan manusia.
Dijaman Kali Yuga saat ini,mungkin jarang kita dapatkan lagi
manusia yang mau mengerti akan sesama.Keangkuhan,ke Ego an telah menguasai
manusia saat ini.
Pernahkah kita ingat dan menyadari"aku adalah kamu,kamu adalah aku"...?
Luangkan waktu kita sejenak untuk merenung apa yang telah kita
lakukan untuk sesama kita...!

3.Hubungan manusia dengan alam.
Hutan,tentunya kita semua sudah tahu,setiap hari,setiap bulan,dan setiap tahun
hutan kita selalu bertambah kerusakannya.
Alam yang terus mengalami kehancuran ditengah keserakahan manusia.
Sebelum alam mulai murka,hendaknya kita mulai dari saat ini.
Lestarikan alam,jaga dan rawat alam ini seperti kita merawat diri kita sendiri.
Lakukan yang terbaik untuk alam ini.
Atau renungkan diri kita sejenak,apa yang telah pernah kita lakukan untuk alam ini...?

Pendek kata "Melalui konsep hidup Tri Hita Karana "
Kita wujudkan kehidupan yang lebih bahagia.

Renungkan...!

Monday, August 24, 2009

Sujudkan Diri


Menghadapi hidup ini...
melalui hari demi hari,
menjalani waktu demi waktu,
Siang dan malam selalu berlalu,
mengiringi tawa dan pilu...

Didalam cerita hidup saat ini...
Mana kawan mana lawan,
Semuanya dalam kepura-puraan,
Didepan kita tersenyum,
Dibelakang kita menikam,
Tanpa pernah sadar,
Kita selalu menipu diri...



Entah sadar atau tanpa sadar...
manusia berpesta dan foya-foya..
Ditengah lembaran dosa,
Lupa akan kuasa Yang Maha Esa,

Mungkin saat ini...
Matahari masi mau menyinari,
Bintang-bintang masi menghiasi rembulan,
jauh dilangit sana,
Kita hanya bisa menunggu,
Sampai saatnya nanti,
Alam akan bosan,
menyaksikan manusia bermandikan dosa,

Sadarlah...
Hingga tiba saatnya nanti,
semuanya akan kembali pada alam...
semuanya akan kembali pada Tuhan...
Sujudkan diri,
semasih ada matahari,

Klik to Info :