Sangat menarik untuk disimak dharma wacana seorang sulinggih di depan siswa setingkat SMP yang materinya mengaitkan pengendalian tri kaya (pikiran, perkataan dan perbuatan) dalam hubungan hukum karma.
Dijelaskan ada 12 bentuk pengendalian tri kaya yang bila dirinci masing-masing menjadi 3 hal untuk manah (pikiran), 4 hal untuk wacika (perkataan) dan 3 hal lagi untuk kayika (perbuatan). Seperti misalnya pikiran dengki/irihati, kata-kata kasar dan memfitnah, dan perbuatan tidak senonoh seperti berzinah atau berselingkuh. Semua perilaku ini baik atau buruk tidak terlepas dari hukum karma.
Dikutip isi kitab suci Rig Weda tentang sanksi terhadap pelanggaran moral ini yang tidak bisa dibersihkan atau dicuci dengan cara apa pun, khususnya menyangkut perselingkuhan. Dikatakan bila kelak menitis kembali akan menjadi makhluk yang paling rendah derajatnya.
Ketika disinggung perilaku pacaran di usia yang sangat muda, risikonya kelak bila terlahir kembali akan lahir muda yang belum waktunya. Pada saat itu muncul reaksi suara bergumam dari para anak muda itu, suatu sikap spontan yang seharusnya tidak keluar sekiranya anak-anak itu tahu sesana Hindu di hadapan seorang sulinggih. Sampai beliau berujar, sekiranya apa yang disampaikan itu bohong, berarti kitab suci atau lontar suci itu bohong.
Mungkin konotasi perselingkuhan ini rancu dengan istilah kencan yang oleh beliau disebut pacaran. Padahal ucapan beliau itu benar apabila dibahas dari aspek ilmiah, baik dari ilmu kedokteran maupun ilmu psikologi, bagaimana dampaknya perilaku suami istri pada usia sangat muda atau sering disebut di bawah umur. Dari sudut hukum perkawinan pun dilarang, ada batasan usia 19 tahun.
Timbul pertanyaan, bagaimana pendidikan agama Hindu di tingkat sekolah, khusus aspek etika susila ataupun sesana di hadapan orang yang patut kita hormati, seperti kepada orangtua apalagi di hadapan sulinggih. Dari sudut karmaphala memang demikianlah bunyinya, karena karmaphala berfungsi pencegahan. Dari sisi lain, apabila dosa-dosa yang mahabesar itu telanjur telah diperbuat, ajaran agama Hindu yang sangat universal memberikan suatu terapi, dengan syarat pertobatan lahir batin dengan melakukan tapa brata yoga semadi seperti yang diungkap oleh ajaran Siwaratri.
Sumber :http://www.hindu-indonesia.com
Tuesday, September 29, 2009
Tuesday, September 22, 2009
Menuju Puncak Batukaru



Untuk mencapai Puncak Gunung Batu Karu dapat kita tempuh lewat
Jalan Pujungan.Pupuan.Karena dengan melalui jalan ini jalan cukup luas dan
tidak terlalu menanjak.Untuk mencapai puncak dapat kita tempuh kurang
lebih dengan waktu 3-5 jam perjalanan.Didalam perjalanan kita akan disuguhkan
dengan panorama alam yang sangat luar.Dengan pohon2 besar dan lebat
yang tentunya masi sangat alami yang patut kita jaga untuk anak cucu kita nantinya.
Dan setelah sampai dipuncak lagi ,kita akan disuguhkan panorana yang maha luar biasa.
Suasana di Puncak Gunung Batu Karu memanglah lumayang dingin,baik
siang apalagi pada malam harinya.Tapi semua itu akan terbayar
disaat senja dan pagi harinya.Dikala dingin telah usai menusuk tulang,
Kita akan disuguhkan panorama alam yang sangat luar biasa..
Keindahan dari anugrah Tuhan yang Maha Kuasa,sulit aku katakan dengan
kata2,
Puncak BatuKaru,puncak nirwana. ( Liat Gambar lain )
Tuesday, September 15, 2009
Rambut Sedana

PIODALAN RAMBUT SEDANA.
Hari ini jatuh pada Sukra Umanis Merakih,Sanghyang Rambut Sedana juga disebut Dewa Harta Benda.Upakaranya terdiri dari : suci,daksina,peras,penek ajuman,sasodaan putih kuning.Persembahan kepada barang harta benda seperti : emas,manik,uang,dan barang-barang mulya lainnya sebagai pralingga Sanghyang Rambut Sedana.
Hari Raya Siwaratri
1.SHIWARATRI.
Hari raya Shiwaratri jatuh pada purwaning tilem sasih kapitu(panglon ping 4 sasih kapitu).Shiwaratri artinya malam Shiwa yakni malam dimana Yhang Shiwa sedang beryoga semadi untuk kesejahtraan dunia.Pada malam ini umat Hindu diwajibkan melaksanakan sambang,yoga dan semadhi.Sambang yang artinya jagra atau begadang.Yoga artinya mengadakan hubungan dengan Yhang Shiwa.Semadhi artinya menyatukan diri dengan Ida Sanghyang Whidi Wasa.Dengan melaksanakan hal itu,umat diyakini akan mendapatkan anugrah dari Shiwa berupa peleburan dosa.
Landasan Shiwaratri ini yaitu kekawin Shiwaratri Kalpa atau kekawin Lubdaka.Kekawin ini ditulis oleh Mpu Tanakung yang bersumber dari Padma Purana.
Untuk melaksanakan hari suci ini hendaknya melaksanakan brata antara lain :
a.Tidak tidur selama 36 jam,dari matahari terbit sampai dengan matahari terbenam keesokan harinya.
b.Upawasa yaitu tidak makan selama 24 jam
c.Semedhi yang dilakukan pada malam harinya.
Pada kekawin Shiwaratri Kalpa disarankan pada malam hari tersebut melaksanakan kegiatan-kegiatan agar tidak mengantuk yaitu kegiatan berupa :
a.Mengadakan bunyi-bunyian ( mredangga )
b.Mekidung/mekekawin
c.Mendengarkan cerita Lubdaka.
Sedangkan orang yang telah meningkatkan spiritualnya hendaknya menambah bratanya dengan mona brata pada malam harinya selama 24 jam.
Jenis-jenis upakara yang diperlukan dalam melaksanakan pemujaan ini antara lain berupa bunga yang harum-harum,menir,kanyeri,gambir,arja,,kacubung,wanduri putih,putat,asoka,nagapuspa,tenguli,bekula kalak,cempaka,tunjung biru,tunjung merah,tunjung putih,majar-majar,sulasih.Bunga-bunga tersebut hendaknya dilengkapi dengan madu,bubur susu,bubur gula liwet yang dicampur dengan hati wilis
( santan ),persembahan ini juga mestinya dilengkapi dengan pana pana matsyaka ( daun bila ).
Dalam prakteknya di Bali upakara yang diperlukan adalah upasaksi ke Surya dengan canang ajuman atau pejati.
a.Disanggah kamulan mempersembahkan tapakan palinggih pasucian ,rayunan putih kuning,ajuman dan panca lingga yang dilengkapi dengan daun bila.
b.Sarana pamuspan untuk 3 kali,mulai malam ,tengah malam,menjelang matahari terbit.
Adapun urutan upacaranya sebagai berikut :
a.Pagi-pagi benar pada panglon ping 14,sisya harus menghadap Shiwa untuk menyatakan niatnya untuk melaksanakan brata Shiwaratri.
b.Setelah mendapat anugrah dari guru ( nabe )sisya mulai mandi dan keramas untuk menyucikan diri.
c.Usai mandi melaksanakan pemujaan terhadap Sangyang Shiwa.
d.Usai pemujaan bari melaksanakan upawasa dan mona brata.
e.Pada malam harinya melakukan sambaing atau tidak tidur dan melakukan yoga Samadhi kehadapan Shiwa,Dewa Kumara,dan Ganesha dengan sarana diatas.
f.Keesokan harinya pada pagi hari harus melaksanakan asuci laksana dan menghadap guru nabe untuk mohon tirta dan brata sambaing dilanjutkan sampai menjelang malam.
Kautamaan Brata Shiwaratri.
Shiwaratri atau malam Shiwa yang lebih dikenal dengan malam peleburan dosa.Karena barang siapa diwaktu malam tersebut dapat melaksanakan brata shiwaratri akan mendapat anugrah Shiwa berupa peleburan dosa.Sehina-hinanya manusia,bilamana pada malam tersebut dapat melakukan brata maka dosa-dosanya akan dilebur dan kelak bila meninggal rohnya akan mendapat tempat di Shiwaloka,seperti halnya Lubdaka.Lubdaka adalah seorang pemburu yang suatu kebetulan ketika malam Shiwaratri melakukan brata tidak tidur dan dengan tidak sengaja mempersembahkan daun bila kepada Shiwa.
Tri Hita Karana

Melalui Tri Hita Karana hendaknya kehidupan ini akan terasa lebih indah,
Tanpa kita pernah sadar,konsep hidup dengan Tri Hita Karana pada saat ini
sudah mulai dilupakan.
1.Hubungan manusia dengan Tuhan.
Mungkin kita bisa menghitung dengan jari dalam satu bulan
brapa kali kita sujud kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Atau pernahkah kita ingat akan ajaran-ajaran agama didalam
menjalani hari...?
Sudah saatnya kita mulai sadar,Demi terujudnya kehidupan
yang indah damai,mulai saat ini kita tingkatkan
nilai sepiritual kita untuk menjalankan Dharma,sujud
bakti kita kepada Yang Maha Kuasa hendaknya kita lakukan dengan
tulus dan iklas.Mohon kepada yang maha kuasa akar selalu dituntung
sesuai dengan ajaran Dhrama untuk menuju kebahagiaan.
Dan jangan pernah dilupakan semua yang ada di Bumi ioni adalah Kuasa
Dari Tuhan Yang Maha Esa.
2.Hubungan Manusia dengan manusia.
Dijaman Kali Yuga saat ini,mungkin jarang kita dapatkan lagi
manusia yang mau mengerti akan sesama.Keangkuhan,ke Ego an telah menguasai
manusia saat ini.
Pernahkah kita ingat dan menyadari"aku adalah kamu,kamu adalah aku"...?
Luangkan waktu kita sejenak untuk merenung apa yang telah kita
lakukan untuk sesama kita...!
3.Hubungan manusia dengan alam.
Hutan,tentunya kita semua sudah tahu,setiap hari,setiap bulan,dan setiap tahun
hutan kita selalu bertambah kerusakannya.
Alam yang terus mengalami kehancuran ditengah keserakahan manusia.
Sebelum alam mulai murka,hendaknya kita mulai dari saat ini.
Lestarikan alam,jaga dan rawat alam ini seperti kita merawat diri kita sendiri.
Lakukan yang terbaik untuk alam ini.
Atau renungkan diri kita sejenak,apa yang telah pernah kita lakukan untuk alam ini...?
Pendek kata "Melalui konsep hidup Tri Hita Karana "
Kita wujudkan kehidupan yang lebih bahagia.
Renungkan...!
Subscribe to:
Posts (Atom)