Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Free Website Hosting

Wednesday, December 22, 2010

Ilmu Kewisesan Pengiwa Leak Desti

Kata Pengiwa berasal dari bahasa jawa kuno; yang asal katanya kiwa dalm bahasa Jawa Kuno yang artinya kiri; kiwan; sebelah kiri, Ngiwa = Nyalanang aji wegig (menjalankan aliran kiri), seperti ; pengeleakan penestian, Menggal Ngiwa = nyemak (melaksanakan) gegaen dadua (pekerjaan kiri dan kanan).

Pengertian Kiwa dan Tengen artinya ilmu hitam dan ilmu putih, Ilmu Hitam disebut juga ilmu pengeleakan, tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu, Wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu itu sering disebut “ngiwa”. Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Aji Penengen (Ilmu putih) sangat bertentangan dengan ilmu hitam. Ilmu putih sebagai lawannya, yang disebut pula ilmu penangkal leak yang bisa dipakai untuk memyembuhkan orang sakit karena diganggu leak, sebab aji usadha berhaluan kanan, disebut haluan “tengen” berarti kanan. Ilmu putih ini mengandung ilmu “kediatmika”.

Leak Desti yang merupakan bagian dari Ilmu Pengiwa dari jaman dulu kala sudah menjadi fenomena yang tak pernah sirna dimakan jaman, keberadaannya dari dulu menjadi momok yang menakutkan masyarakat. Leak Desti adalah perwujudan ilmu leak tingkat paling bawah yaitu perwujudannya bisa berbentuk binatang. adapun nama – nama yang sangat popular adalah:
  • Lelakut yaitu sejenis kadal yang besar berbadan hitam loreng-loreng, berkepala manusia berwajah seram dan hitam, rambutnya terurai, taringnya panjang, giginya runcing, matanya lebar dan menyala keluar api berwarna hijau, mempunyai ekor panjang warnannya loreng hitam putih.
  • Bebae yaitu sejenis binatang kambing berbulu putih mulus, mempunyai telinga panjang menjulur kebawah sampai menyentuh tanah.
Leak Desti ini sasarannya adalah orang-orang yang penakut sehingga kalau orang yang ketakutan ini melihat leak Desti maka ia akan lari terbirit-birit dan bisa terjatuh dan pada saat jatuh itulah maka Leak Desti ini akan menyerang dan akan mengisap darah orang yang terjatuh tadi.

Disamping orang yang ketakutan juga bisa disasar anak-anak kecil terutama bayi-bayi sehingga bayi-bayi itu bisa menangis terus-menerus dan tidak mau menyusu pada ibunya dan lama-lama sampai anak kecil tersebut jatuh sakit. Leak Desti ini di Bali ada penangkalnya yaitu melalui orang-orang Wiku yaitu orang yang sudah menguasai ilmu pengobatan yang disebut ilmu Usada Bali (pengobatan tradisional Bali).

“Ngereh” artinya proses perubahan wujud dari manusia menjadi Leak. Leak desti adalah wujud siluman jahat (setan). Desti adalah perwujudan binatang siluman manusia dalam bentuk binatang yang aneh dan seram.

Adapun Tehnik Ngereh Leak Desti tersebut adalah sebagai berikut : Dalam ajaran Agama Hindu mengenal tiga Kerangka Dasar yaitu:
  • Tatwa berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan harus menyadari tentang ajarannya.
  • Etika berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan pasti akan melaksanakan mengenai tehnik-tehnik tingkah lakunya.
  • Upakara berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan sudah tentunya melaksanakan upakara-upakara seperti menghaturkan sesajen (banten dalam bahasa bali) sebagai sarana upakara.

Sebelum Ngereh (proses perubahan wujud) menjadi Leak Desti, orang yang menjalankan pengeleakan terlebih dahulu melaksanakan beberapa tahapan kegiatan dengan melakukan berbagai permohonan. Adapun tahapan-tahapan kegiatan ngereh tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Memasang pasirep yaitu mengeluarkan ilmu kesaktian agar semua mahluk hidup yang ada di sekitarnya semuannya tertidur lelap.
  2. Mencari tempat ngereh yaitu mencari tempat yang paling strategis dan aman seperti misalnya di Kuburan, pada perempatan jalan, atau bisa di sawah yang penting tempat tersebut sepi.
  3. Mempersiapkan upakara berupa sarana banten yang berkaitan dengan ilmu pengeleakan.
  4. Melakukan permohonan-permohonan agar proses ngereh dapat berlangsung sesuai dengan yang diinginkan kepada Tuhan dalam segala bentuk menifestasinya yaitu :
Pertama mohon kepada yang bernama Butha Peteng (perwujudan unsur alam gelap) untuk memagari tempatnya agar siapa yang lewat supaya tidak melihat, dilanjutkan kemudian dengan memasang ilmu pengreres (ilmu penakut) agar yang lewat menjadi ketakutan.
Kedua mohon kepada yang bernama Butha Keridan (perwujudan unsur alam terbalik) agar pengelihatan orang bisa terbalik yaitu yang di atas bisa terlihat di bawah.
Ketiga secara berturut-turut mohon kepada yang bernama Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan terakhir mohon kepada yang bernama sang Butha Kapiragan, agar segala permohonannya bisa terkabul.
Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan Butha Kapiragan adalah nama-nama Butha Kala yang menguasai Ilmu Pengleakan.

Keempat setelah proses permohonan selesai, dilanjutkan dengan kegiatan muspa (sembahyang) dengan posisi badan terbalik yang dilanjutkan dengan nengkleng (berdiri dengan kaki satu) berjalan nengkleng mengitari "sanggah cucuk" (tempat menaruh sesajen yang terbuat dari batang bambu), sesuai dengan tingkat ilmunya dengan posisi putaran berjalan nengkleng kearah kiri.

Dengan melalui ngereh tersebut diatas maka orang yang menguasai ilmu pengeleakan bisa berubah wujud sesuai tingkat ilmu pengeleakan yang dikuasainya yaitu kalau tingkat Desti maka orang tersebut bisa berubah wujud menjadi binatang yang aneh-aneh dan seram

setelah menguasai Ilmu Pengiwa Leak Desti, penekun akan dengan mudah membuat sarana pengleakan yang biasa di gunakan oleh pengikut aliran kiri ini. Sarana tersebut seperti :
  1. “Pengasren” (semacam pelet), yakni sarana magis agar orang yang bersangkutan menjadi kelihatan selalu cantik dan tampan, awet muda dan mempunyai daya pikat yang tinggi. Dengan sarana tersebut orang akan mudah dapat memikat lawan jenis yang dikehendakinya.
  2. “Pengeger” (semacam penglaris) yang dapat menyebabkan si pemakai menjadi laris dalam berdagang atau berusaha, dengan harapan si pemakai menjadi semakin kaya.
  3. “Pengasih-asih”, yakni sarana yang dapat membuat orang menjadi jatuh cinta kepada orang yang menggunakan sarana tersebut. Atau dapat pula disebut dengan sarana guna-guna. Seperti misalnya : guna lilit, guna jaran guyang, guna tuntung tangis, dan lain-lain macamnya.
  4. “Penangkeb”, yakni sarana gaib atau mistis agar orang lain atau orang banyak menjadi tunduk. Dengan demikian orang tersebut dapat mengendalikan, mengarahkan, menguasai, atau menyetir orang lain atau orang banyak sesuai dengan keinginannya. Orang yang telah terkena ilmu penangkeb tak ubahnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, sehingga akan menjadi penurut sesuai perintah atau keinginan dari orang yang mengenakan ilmu penangkeb.
  5. “Pepasangan”, yakni sarana yang ditanam pada tempat tertentu oleh orang yang bisa melakukan pengiwa. Tujuannya adalah untuk mengenai korbannya sesuai dengan yang diingini si pemasang. Dapat berupa sarana tulang manusia yang dibungkus, atau berupa bubuk tulang yang ditaburkan pada pekarangan rumah orang yang akan dijadikan korban. Dengan adanya pepasangan itu menjadikan situasi rumah tersebut menjadi agak lain, agak seram, penghuninya sakit-sakitan, sering cekcok, dan lain-lain.
  6. “Sesawangan”, yakni kemampuan seseorang yang mempraktekkan ilmu pengiwa hanya dengan membayangkan wajah atau hanya nama dari calon korban. Sesawangan juga disebut dengan umik-umikan atau acep-acepan atau doa-doa. Dengan kemampuan ini seseorang yang melaksanakannya dapat mencapai korbannya, walaupun dia bersembunyi di balik dinding beton yang tebal dan kuat. Adanya ilmu ini makanya sering kita mendengar kalimat seperti berikut : “walaupun engkau berlindung di dalam gedong batu yang terkunci rapat, aku akan dapat mencapaimu”. Mungkin ilmu sesawanganlah yang digunakan orang tersebut.
  7. “Ilmu Cetik” (racun) merupakan cara meracun orang atau korban. Ada cetik sekala dan ada cetik niskala. Cetik sekala diartikan bahwa meracun dengan menggunakan sarana tertentu yang tampak nyata, seperti cetik gringsing, cetik cadang galeng, cetik kerikan gangsa, dan lain-lain. Kemudian cetik niskala adalah meracun korban atau orang dengan sarana yang tidak kelihatan. Cetik ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu Leak yang sudah tinggi. Hanya dengan memandangi makanan atau minuman saja, maka korbannya akan menjadi sakit seperti yang dikehendaki. Jadi boleh dibilang cetik ini tanpa memerlukan sarana, karena tidak kelihatan.


Kewisesan yang diporolehnya kemudian disebarluaskan secara rahasia dengan menggunakan sarana seperti mas, mirah, tembaga, kertas merajah, dan lain-lain. Ada pula dalam bentuk bebuntilan (bungkusan kecil yang berisikan sarana tertentu). Si pemakai pengiwa tersebut juga diberikan rerajahan ongkara sungsang (ongkara terbalik) pada lidah, gigi, kuku, atau bagian tubuh tertentu lainnya. Atau ada pula penggunaan pengiwa dengan jalan maled (menelan sarana yang diberikan oleh gurunya). Sarana pengiwa tersebut dibakar sebelumnya, kemudian abunya dibungkus dengan buah pisang mas, dan kemudian ditelan. Setelah itu didorong masuk ke dalam tubuh dengan menggunakan tirta atau air suci.

Dalam kemajuan teknologi yang berkembang pesat saat ini ternyata di masyarakat masih mejadi trend penggunaan alat-alat kekebalan dalam berbagai bentuk baik yang dipakai maupun yang masuk dalam tubuhnya.

Adapun fungsi dari alat tersebut untuk menambah kepercayaan diri agar merasa lebih mampu dibandingkan dengan yang lainnya. Harus disadari fungsi dari alat ini bagaikan pisau bermata dua. Kalau tujuanya untuk kepentingan umum dalam hal menolong masyarakat tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika alat itu digunakan untuk pamer dan menguji orang lain, ini yang sangat riskan. Karena setiap alat yang kita pakai memiliki kadar tersendiri, tergantung dari sang pembuatnya. Karena ini berhubungan dengan kekuatan niskala yang berupa panengen dan pengiwa. Atau dalam istilah lainnya mengandung kekuatan pancaksara maupun dasaksara. Tidak sembarang orang bisa membuat alat seperti ini apalagi memasangnya karena berhubungan dengan pengraksa jiwa. Kalau berupa sesabukan (tali pinggang) menggunakan bahan-bahan tersendiri, berupa biji-bijian seperti kuningan, timah, perak, bahan panca datu. Ditambah sarana yang lainnya sebagai persyaratannya. Untuk menghidupkan ini perlu mantra pasupati biar benda tersebut menjadi hidup. Disinilah kekuatan penengen dan pengiwa berjalan sebagai satu kesatuan yang menjadi kekuatan panca dhurga.

Kalau sabuk pengeleakan lagi berbeda, di sini kekuatan pengiwa murni dipakai, sehingga yang memakainya akan memasuki dunia lain, tanpa disadari ia akan berubah secara sikap. Dan kita diolah oleh alat itu tanpa disadari kita menjadi kehilangan kontrol. Ini yang sangat berbahaya, jika tidak segera ditolong ia akan terjerumus, disinilah kekuatan penengen akan berjalan sebagai penetralisir. Di sinilah perlunya kita pemahaman apa itu penengen dan pengiwa jangan sepengal-sepenggal.

Kalau yang memasukan dalam tubuh juga hampir sama prosesnya dengan yang memakai alat, yang menjadi perbedaan adalah kalau yang memakai alat berada di luar tubuh dan yang memasukan berada di dalam tubuh, inipun prosesnya tidak gampang perlu orang yang tahu untuk memasangnya, memang tubuh menjadi kebal tapi perlu proses. Tidak langsung jadi. Disinilah kejelian seorang senior terhadap yuniornya apakah sudah siap secara mental atau tidak. Kalau sudah siap secara mental maka akan cepat benda itu bereaksi dan bisa dikontrol oleh dirinya sendiri, jika tidak akan sebaliknya akan membahayakan dirinya sendiri. Karena alat-alat yang dipasang akan menjadi energi. Di sinilah muncul keegoissan kita jika sudah merasa hebat seolah-olah kita yang paling unggul di antara orang lain, padahal kita tahu ilmu seperti ini sangat banyak.

Pengendalian diri sangat penting untuk membawa hal yang positif bagi kita sendiri, jangan terjebak oleh keinginan sesaat. Tapi sebaiknya kita gunakan alat-alat itu untuk kepentingan yang lebih baik seperti untuk jaga diri.

Untuk mendapatkan ilmu tersebut, harus mengadakan upacara yang disebut madewasraya. Apabila ingin menggunakan pangiwa, supaya dapat sakti dan manjur, mujarab dan digjaya, terlebih dahulu harus menyucikan diri. Setelah itu tatkala malam diadakannya madewasraya dahulu di kayangan pangulun setra (pura yang ada di dekat kuburan), memohon anugrah kehadapan Hyang Nini Betari Bagawati atau Ida Betari Durga Dewi. Adapun sarananya:
1. Daksina 1 buah
2. Uang kepeng sebanyak 17.000
3. Ketupat 2 kelan (1 kelan = 6 biji)
4. Arak & brem
5. Ketan hitam
6. Canang 11 biji
7. Canang tubungan, burat wangi lenga wangi, nyanyah (goreng tanpa minyak) gagringsingan, geti-getih (darah), dan biu mas (pisang kecil yang biasanya dipakai untuk membuat canang)

kemudian dipersembahkan secara niskala. Setelah itu bersila di depan paryangan, bersemadi dan tidak lupa dengan dupa menyan astanggi, heningkan batin. Kemudian ucapkan mantra:
“Om Ra Nini Batari Bagawati, turun ka Bali; ana wang mangkana; aminta kasih ring Paduka Batari, sira nunas turun ka mrecapada. Ana wang mangkana anunas kasaktian, manusa kabeh ring Bagawati, Sang Hyang Guru turun ka mrecapada. Ana wang manusa angawe Batara kabeh, turun ka Bali Sang Hyang Bagawati. Ana buta wilis, buta abang, ana buta jenar, ana buta ireng, ana buta amanca warna, mawak I Kalika, ya kautus antuk Batari Bagawati, teka welas asih ring awak sarinankune, pakulun Paduka Bagawati. Om Mam Am Om Mam, ana Paduka Batara Guru, teka welas asih, Bagawati manggih ring gedong kunci manik, teka welas asih ring awak sarinanku”.

Apabila sudah berhasil mendapatkan ilmu gaib tersebut, maka ada aturan yang harus dipatuhi. Orang yang memiliki ilmu gaib tersebut akan digjaya tidak terkalahkan, tidak bisa diungguli, dan semua akan tunduk kepadanya. Apabila mampu merahasiakannya, maka dalam 100 kali kelahiran akan menemui kebahagiaan dan kebebasan tertinggi. Dan bila meninggal dapat kembali ke sorga Brahmaloka, Wisnuloka, dan Iswaraloka. Tetapi bila ketahuan, apalagi sampai suka membicarakan, menyebarluaskan, dan tidak mampu merahasiakannya, maka dalam 1000 kali kelahiran akan menemui hina, neraka, disoroti oleh masyarakat, dan sudah pasti terbenam dalam kawah neraka Si Tambra Goh Muka.

Proses Belajar Nge-Leak

Proses Belajar Nge-Leak

Pada dasarnya ilmu ini sangat rumit dan rahasia sekali, jarang seorang guru mau dengan terang-terangan memberikan ilmu ini dengan cuma-cuma. Begitu juga saya belajar dengan tiga guru dengan sangat susah payah harus "ngesorang rage" biar bisa diterima jadi murid.

Sebelum seorang belajar ilmu leak terlebih dahulu harus diketahui otonan orang tersebut (hari lahir versi Bali) hal ini sangat penting, karena kwalitas dari ilmu yang dianut bisa di ketahui dari otonanya, sang guru harus hati-hati memberikan pelajaran ini kalau tidak murid akan celaka oleh ilmu tersebut. Setelah diketahui barulah proses belajar di mulai, pertama-tama murid harus mewinten Brahma widya, dalam bahasa lontar “Ngerangsukan Kawisesan”, dan hari baik pun tentunya dipilih oleh sang guru.

Tahap dasar murid diperkenalkan dengan Aksara Wayah atau Modre. Selajutnya murid di “Rajah” (ditulis secara spiritual) seluruh tubuh oleh sang guru, hal ini di lakukan di Kuburan pada saat kajeng kliwon nyitan.

Selesai dari proses ini barulah sang murid sah diajarkan oleh sang guru, ada 5 sumpah yang dilakukan di kuburan :

1. hormat dan taat dengan ajaran yang di berikan oleh guru
2. Selalu melakukan ajapa-ajapa dan menyembah SIWA Dan DURGA dalam bentuk ilmu kawisesan,
3. tidak boleh pamer kalau tidak kepepet, selalu menjalankan darma,
4. tidak boleh makan daging kaki empat, tidak boleh bersetubuh ( zina)
5. tidak boleh menyakiti atau dengan carapapun melalui ilmu yang kita pelajari.

Di Bali yang namanya Rangda selalu indentik dengan wajah seram, tapi di jawa di sebut Rondo berarti janda, inilah alasanya kenapa dahulu para janda lebih menguasai ilmu pengeleakan ini dari pada laki-laki, dikarenakan wanita lebih kuat nahan nafsu... Pada dasarnya kalau boleh saya katakan ilmu ini berasal dari tanah Jawa, campuran aliran Siwa dan Budha, yang di sebut dengan “Bajrayana”.

adapun tingkat pelajarannya adalah:

* Tingkat satu kita diajari bagaimana mengendalikan pernafasan, di bali dan bahasa lontar di sebut “Mekek Angkihan” atau Pranayama.
* Tingkat dua kita diajarkan Visualisasi, dalam ajaran ini disebut "Ninggalin Sang Hyang Menget"
* Tingkat tiga kita diajar bagaimana kita melindungi diri dengan tingkah laku yang halus serta tanpa emosi dan dendam, di ajaran ini di sebut "Pengraksa Jiwa”.

Tingkat empat kita di ajar kombinasi antara gerak pikiran dengan gerak tubuh, dalam bahasa yoga disebut Mudra. mudra ini berupa tarian jiwa akhirnya orang yang melihat atau yang nonton di bilang "Nengkleng” (berdiri dengan kaki satu). Mudra yang kita pelajari persis seperti tarian siwa nata raja. Tingkat empat barulah kita diajar Meditasi, dalam ajaran pengeleakan disebut "Ngeregep”, yaitu duduk bersila tangan disilangkan di depan dada sambil mengatur pernafasan sehingga pikiran kita tenang atau “Ngereh” dan “Ngelekas”.
Tingakat lima kita di ajarkan bagaimana melepas roh ( Mulih Sang Hyang Atma ring Bayu, Sabda lan Idep) melalui kekluatan pikiran dan batin dalam bahasa sekarang disebut Levitasi, berada di luar badan. Pada saat levitasi kita memang melihat badan kita terbujur kaku tanpa daya namun kesadaran kita sudah pindah ke badan halus, dan di sinilah orang disebut berhasil dalam ilmu leak tersebut, namun..ini cukup berbahaya kalau tidak waspada dan kuat iman serta mental kita akan keliru, bahkan kita bisa tersesat di alam gaib. Makanya kalau sampai tersesat dan lama bisa mati, ini disebut “mati suri”, maka Bhagawadgita benar sekali, (apapun yang kamu ingat pada saat kematian ke sanalah kamu sampai... dan apapun yang kamu pikirkan begitulah jadinya)

Tentu dalam pelajaran2 ini sudah pasti dibutuhkan ketekunan, puasa, berbuat baik, sebab ilmu ini tidak akan berhasil bilamana dalam pikiran menyimpan perasaan dendam, apalagi kita belajar ilmu ini untuk tujuan tidak baik saya yakin tidak akan mencapai tujuannya.

Kendati demikian godaan selalu akan datang seperti, nafsu sek meningkat, ini alasanya kenapa tidak boleh makan daging kaki empat, dan kita diajurkan tidur di atas jam 12 malam agar konisi agak lemah sehingga nafsu seks berkurang. Dan tengah malam tepat jam 12 kita diwajibkan untuk meditasi sambil mencoba melepas roh

dalam dunia leak sama seperti perkumpulan spiritual, pada hari-hari tertentu pada umumnya KAJENG KLIWON, kaum leak mengadakan “puja bakti” bersama memuja SIWA, DURGA, BERAWI, biasanya di pura dalem atau di Kuburan (pura Prajapti) dalam bentuk NDIHAN, bukan kera, anjing, dan lain-lain.

Jadi demikian semeton yang bisa saya sampaikan, mudah mudahan tulisan ini menambah wawasan di bidang ilmu leak sehingga besok-besok kita tidak ikut-ikutanan mengatakan LEAK itu jahat

YA SAKTI SANG SAJANA DARMA RAKSAKA, orang yang bijaksana pasti berpegang teguh pada dharma, dan orang yang berpegang darma sudah pasti bijaksana.

Akhir kata, maaf apabila dalam tulisan ini ada kekurang atau dalam penjelasan saya ada yang tidak patut mohon di maaflkan

Friday, December 10, 2010

Pura Segara Rupek














Menjaga Bali dari Segara Rupek

TAK banyak yang tahu, ujung terjauh Bali di bagian barat bukanlah di Gilimanuk, melainkan di Segara Rupek. Dalam peta Pulau Bali, lokasi Segara Rupek ini tepat berada di ujung hidung Pulau Bali. Ini termasuk wilayah Kabupaten Buleleng. Dari sinilah sesungguhnya jarak dekat antara Bali dengan Jawa dan di sinilah secara historis menurut sumber-sumber susastra-babad, kisah pemisahan Bali dengan Jawa dimulai, sehingga Bali menjadi satu pulau yang utuh dan unik.

Bisa dimengerti apabila tak banyak orang tahu betapa penting dan strategis keberadaan Segara Rupek bagi Bali. Untuk mencapai Segara Rupek relatif tidak mudah, bila hendak menempuh jalan darat satu-satunya jalan yang bisa ditempuh mesti melewati jalan menuju ke Pura Prapat Agung dan dari lokasi Pura Prapat Agung ini masih harus dilanjutkan lagi menempuh perjalanan darat sekitar 5 km menelusuri hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Kondisi sarana, prasarana dan infrastruktur yang belum memadai demikian kiranya turut pula mempengaruhi Segara Rupek tidak mendapat perhatian semestinya, baik dari kalangan tokoh masyarakat Bali, bahkan juga dari kalangan pemimpin di Bali. Di Segara Rupek hingga kini belum ada pelinggih sebagai tonggak atas suratan sejarah, padahal lokasi ini jelas-jelas menjadi babakan dan tonggak penting dalam sejarah Bali.

Berdasarkan sumber susastra maupun berdasarkan keyakinan spiritual, saya menemukan bahwa lokasi Segara Rupek sudah sepatutnya diperhatikan sekaligus di-upahayu. Yang ada sejauh ini masih kurang layak. Menurut lontar Babad Arya Bang Pinatih, Empu Sidi Mantra beryoga semadi memohon kerahayuan seisi jagat kehadapan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Baruna Geni, Danghyang Sidimantra dititahkan untuk menggoreskan tongkat beliau tiga kali ke tanah, tepat di daerah ceking geting. Akibat goresan itu air laut pun terguncang, bergerak membelah bumi maka daratan Bali dan tanah Jawa yang semula satu itu pun terpisah oleh lautan, lautan itu dinamakan Selat Bali.

Guna lebih mempertebal rasa bakti sesuai dengan sumber susastra, dan ikut juga mayadnya ngastitiang kerahayuan jagat Bali, bahkan seluruh wilayah Indonesia maka: ngatahun awehana uti; nista, madya, utama ayu jawa pulina mwang banten bali pulina suci linggih dewa, paripurna nusantara. Artinya: setahun sekali dilakukan upacara pakelem, banten dirgayusa bumi, tawur gentuh pada hari Anggara Umanis, Wuku Uye. *

Arya Kenceng

ARYA KENCENG
Babad Arya Tabanan, adalah tulisan dari lontar kuno yang dapat ditemukan di Puri(keraton) di Tabanan, seperti Puri Gede Kerambitan dan Puri Anom Tabanan.
Babad ini menceritakan awal ekspedisi Majapahit ke Bali yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan Arya Dhamar (Adityawarman). Dalam babad ini disebutkan ada kesatriya keturunan kediri yang bersaudara :
Raden Cakradara (suami Tribhuwana)
Arya Damar (Adityawarman)
Arya Kenceng
Arya Kuta wandira
Masing-masing kesatria ini memimpin pasukannya menyerang dari segala penjuru mata angin. Diceritakan setelah Bali berhasil ditaklukan, Arya Damar kembali ke majapahit, kemudian diangkat sebagai Raja di Palembang. Adik-adik beliau ditempatkan sebagai raja di masing-masing daerah di Bali seperti Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba dan sebagainya.
Keturunan dari Raja tabanan, kemudian mendirikan kerajaan Badung (Denpasar) yang terkenal dengan perang Puputan Badung melawan kolonial Belanda. Babad ini juga menceritakan kejadian-kejadian penting dan suksesi raja-raja Tabanan, dari Raja Pertama (Ida Bhatara Shri Arya Kenceng) sampai raja Tabanan yang terakhir (Ida Cokorda Rai Perang) yang tewas muput raga (menusuk diri sendiri) di Denpasar pada tahun 1906 karena tidak mau tunduk kepada Belanda, Putra mahkota Raja Tabanan KI Gusti Ngurah Gede Pegeg, juga ikut mengakhiri dirinya bersama ayah beliau. Sehingga di Puri Agung Tabanan kemudian hanya tersisa 2 dua orang Putri Raja dari permaisuri yakni Sagung Ayu Oka dan Sagung Ayu Putu, yang kemudian keduanya pindah dan menetap di Puri Anom Tabanan, karena Puri Agung Singasana Tabanan dibakar habis oleh Belanda. Sagung Ayu Oka kemudian menikah dengan Kramer seorang Klerk Kontrolir Belanda, dan Sagung Ayu Putu menikah dengan Ki Gusti Ngurah Anom, di Puri Anom Tabanan. Demikian Riwayat akhir dari Puri Agung Singasana Tabanan.
Berikut silsilah Raja-Raja TabananArya Sentong
Bhatara Adwaya Brahman Shri Tinuheng Pura (Beliau yang di hormati di Singasari & Majapahit) beristrikan Dara Jingga (Sira Alaki Dewa/ beliau yang bersuami seorang Dewa)
Raden Cakradara (suami Tribhuwana Tungga Dewi)
Shri Arya Damar (Adityawarman)Raja Palembang
Shri Arya Kenceng
Shri Arya Kuta wandira
Shri Arya Sentong
Shri Arya Belog
I Bhatara Shri Arya Kenceng Raja Tabanan I                                                                                         1.Shri Megada Prabu (Tidak berminat dengan keduniawian, Membangun  Pasraman di    Kubon Tingguh)
2. Shri Megada Natha
3. Arya Tegeh Kori (Sirarya Kenceng Tegeh Kori / Arya Benculuk)Membangun kerajaan di Badung
II Shri Magada Natha Raja Tabanan II
1. Shri Arya Ngurah Langwang
2. Ki Gusti Made Utara (menurunkan Pragusti Jero Subamya)
3. Ki Gusti Nyoman Pascima (Menurunkan Pragusti Pameregan)
4. Ki Gusti Ketut Wetaning Pangkung (Menurunkan Pragusti Lod Rurung, Kesimpar &  Srampingan)
5. Kigusti Samping Boni (Menurunkan Pragusti Ersania, Kyayi Nengah & Kyayi Titih)
6. Ki Gusti Nyoman Batan Ancak (Menurunkan Pragusti Ancak & Angligan)
7. Ki Gusti ketut Lebah
8. Ki Gusti Ketut Pucangan (Arya Ketut Notor Wanira) (Menurunkan Raja-raja Badung &   Denpasar)Arya Belog
III Shri Arya Ngurah Langwang (Shri Arya Ngurah Tabanan/Shri Arya Nangun Graha)Raja ke 3
1. Sang Nateng Singasana
2. Ki Gusti Lod Carik
3. Kigusti Dangin Pasar (Menurunkan Pragusti Suna,Munang,Batur)
4. Ki Gusti Dangin Margi (Menurunkan K Gst Blambangan, Kgst Jong, Kgst Nang Pagla, K G Nang Rawos)
IV Sang Nateng Singasana (Ida Bhatara Makules)Raja IV & VII
1. Ki Gusti Wayahan Pamedekan
2. Ki Gusti Made Pamedekan
3. Ki Gusti Kukuh
4. Ki Gusti Bola
5. Ki Gusti Wangaya
6. Ki Gusti Made
7. Ki Gusti Kajyanan
V Ki Gusti Wayahan Pamedekan (Raja V)
1. Ki Gusti Nengah Malkangin
2. Raden Tumenggung (Putra yang lahir di Mataram, setelah K G W Pamedekan ditangkap dalam perang dengan Mataram, dan diangkat sebagai mantu oleh Raja Mataram)
VI. Ki Gusti Made Pamedekan (Raja VI) (di tugaskan kembali ke Bali dan menggantikan Kakaknya sebagai raja ke 6
1. Bhatara Nisweng Penida
2. Kyayi Made Dalang
VII Sang Nateng Singasana (kembali naik tahta karena K G Made Pamedekan wafat dan putra mahkota masih belum dewasa)
VIIIBhatara Nisweng Panida (Raja VIII)
1. Ki Gusti Alit Dawuh
IX Ki Gusti Alit Dawuh (Shri Magada Sakti) (Raja IX)
1. Bhatara Lepas Pemade
2. Gusti Nyoman Telabah
3. Kyayi Jegu
4. Kyayi Kerasan
5. Kyayi Oka
X Bhatara Lepas Pemade (Raja X)
1. Ida Cokorda Sekar
2. Ki Gusti Ngurah Gede Banjar (Menjadi angrurah di kerambitan dan menurunkan Puri-puri di kerambitan)
3. Ki Gusti Ngurah Made Dawuh (Cokorda Dawuh Pala)
4. Ki Gusti Sari (Bermukim si Wanasari)
5. Ki Gusti Pandak (Bermukim di Pandak)
6. Ki Gusti Pucangan (Bermukim di Buwahan)
7. Ki Gusti Rejasa (bermukin di Rejasa)
8. Ki Gusti Bongan (Bermukim di Bongan Kawuh)
9. Ki Gusti Sangian (Bermukim di Banjar Ambengan)
10. Ki Gusti Den
XI Ida Cokorda Sekar(Raja XI)
1. Ki Gusti Ngurah Gede
2. Ki Gusti Ngurah Made Rai (Membangun Puri Kaleran, Kembali masuk puri agung setelah Raja X Wafat) 3. Ki Gusti Ngurah Rai (Membangun puri di Penebel, Menurunkan ki Gusti Ngurah Ubung & Jero Kerambitan/kekeran di Kerambitan)Keturunan Ki gusti Ngurah Ubung Musnah di bunuh dalam perang dengan Ki Gusti Ngurah Agung.
4. Ki Gusti Ngurah Anom (Membangun Puri Mas di sebelah Utara Puri Singasana, seluruh keturunannya musnah di bunuh oleh Ki gusti Ngurah Rai penebel)
XII Ida Cokorda Gede (Raja XII)
1. Ki Gusti Nengah Timpag
2. KI Gusti Sambyahan
3. Ki Gusti Ketut Celuk
XIII Ida Cokorda Made Rai (Raja XIII)
1. Ki Gusti Ngurah Agung Gede (Seda sebelum Mabiseka Ratu)
2, Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji (Seda Sebelum Mebiseka Ratu)
3. Kyayi Buruan
4. Kyayi Tegeh
5. Kyayi Beng (Menurunkan Jero Gede Beng, Jero Beng Kawan & Jero Putu)
6. Kyayi Perean (menurunkan Jero Gede Oka, Jero Gede Kompyang)
XIV Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji (Tidak menjadi raja, meninggal sblm naik tahta)
1. Ki Gusti Ngurah Agung
2. Ki Gusti Ngurah Demung (Sebagai Pemade di Puri Kaleran)
3. Ki Gusti Ngurah Celuk (Membangun Puri Kediri)
XVKi Gusti Ngurah Agung (Putra Ki Gst Ngr Panji) (Ida Cokorda Tabanan, Raja XIV)
1. Sirarya Ngurah Agung
2. Ki Gusti Ngurah Gede Banjar (Membangun Puri Anom, menetap di saren Kangin)
3. Ki Gusti Ngurah Rai (Diangkat sbg Putra oleh K Gst Ngr demung di Puri Kaleran)
4. Sirarya Ngurah (Diangkat sbg Putra oleh K Gst Ngr demung di Puri Kaleran)
5. Ki Gusti Ngurah Nyoman (Membangun Puri Anom, menetap di saren Kawuh / Saren tengah sekarang)
6. Ki Gusti Ngurah Made Penarukan (Membangun Puri Anyar Tabanan)
XVI Sirarya Ngurah Agung Tabanan (Bhatara Ngaluhur), Raja XV
1. Sirarya Ngurah Agung (Seda sebelum Mabiseka ratu)
2. Ki Gusti Ngurah Gede Mas (Seda sebelum mabiseka ratu)
3. Ki Gusti Ngurah Alit Senapahan (Seda sebelum Mabiseka Ratu)
4. Ki Gusti Ngurah Rai Perang (Membangun Puri Dangin)
5. Ki Gusti Ngurah Made Batan (Puri Dangin)
6. Ki Gusti Ngurah Nyoman Pangkung (Puri Dangin)
7. I Gusti Ngurah Gede Marga (Membangun Puri Denpasar
8. I Gusti Ngurah Putu (Membangun Puri Mecutan Tabanan)
9. Sagung Wah (terkenal memimpi Bebalikan Wangaya melawan Belanda)
XVII Ida Cokorda Rai Perang (Kembali masuk ke puri Agung setelah semua Putra mahkota wafat, merupakan Raja Tabanan ke XVI, Ratu Singasana Tabanan Terakhir, Muput Raga di Badung setelah terjadinya Puputan Badung.
1. Ki Gusti Ngurah gede Pegeg (Turut Muput Raga di Badung th 1906)
2. Sagung Ayu Putu (Pindah ke Puri Anom ) menikah dgn Ki Gusti Ngurah Anom di Puri Anom Tabanan. Menurunkan keturunan di Puri Anom Saren Taman atau sekarang disebut Puri Anom Saren kauh.
3. Sagung Ayu Oka (Menikah dengan Mr.Kramer, Klerk kontrolir Belanda) keturunannya tidak diketahui lagi.
Pada era penjajahan Belanda, Belanda kemudian membentuk suatu daerah otonomi yang dipimpin oleh seorang self bestur. daerah ini disesuaikan dengan pembagian kerajaan2 sebelumnya. untuk Tabanan dan Badung self bestur diberi gelar Ida Cokorda, Gianyar Ida Anak Agung dan sebagainya...
untuk daerah Tabanan, Belanda kemudian memilih I Gusti Ngurah Ketut Putra bungsu dari Ki Gst Ngr Putu di Puri Mecutan, Tabanan sebagai Kepala Pemerintahan Otonomi Belanda. Sesuai dengan SK Belanda, beliau diberi gelar Cokorda.

BENDESA MANIK MAS


BENDESA MANIK MAS
Dalam buku K.G.P. BENDESA MANIK MAS, disusun oleh Rsi Bintang Dhanu Manik Mas I.N. Djoni Gingsir, Penerbit: Yayasan Diah Tantri,
Pada halaman 90 jelas dinyatakan bahwa Ki Patih Wulung bergelar Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Beliaulah yang mengembangkan keturunan yang sekarang disebut warga Bendesa Manik Mas. Ki Patih Wulung tiada lain adalah Mpu Jiwaksara (berganti gelar dan profesi karena perintah Maharaja Majapahit: Tribuwanattunggadewi melalui Gajahmada). Beliau adalah putra dari Mpu Wijaksara, datang di Bali dan membangun Pura Dasar Gelgel tahun 1189 S atau 1267 M. Jika dirunut lebih ke atas, akhirnya ketemu bahwa Kawitan warga Bendesa Manik Mas adalah Mpu Gnijaya. Jadi warga Bendesa Manik Mas adalah masuk dalam keluarga besar Pasek Sanak Sapta Rsi. Pura Kawitan semua warga Pasek Sanak Sapta Rsi adalah di Lempuyang Madya; pura-pura lain seperti di Tamanpule, Mas dll. statusnya sebenarnya Pamerajan Agung yang lingkupnya lebih sempit. Daripada bingung ke sana ke mari, lebih baik langsung ke Lempuyang Madya dan di Pedarman Pasek di Besakih atau dikenal sebagai stana Ratu Pasek. Di sanalah Ida Mpu Gnijaya distanakan.
Jangan berputus asa tentang kawitan. Memuja kawitan itu perlu karena meliputi tiga dari Pancasrada yaitu: Widhi Tattwa, Atma Tattwa, dan Punarbhawa. Sama seperti kita sekarang, bagaimana sakit hatinya jika anak kandung kita tidak mengakui kita sebagai ayahnya? atau tidak tahu bahwa kitalah ayahnya?
Kawitan berasal dari kata "Wit" artinya asal-usul. Bhisama leluhur yang dimuat di Prasasti antara lain berbunyi sbb.: (terjemahan)
....."tulah" hukumnya bagi orang-orang yang tidak tahu kawitan; bagi mereka yang demikian itu akan tertimpa kesusahan seperti "sabe asanak" (: berkelahi antar keluarga), "tanpegat agering" (:sakit terus menerus tanpa sebab yang jelas), "katemah dening bhuta kala dengen" (: diganggu pikiran yang tidak pernah tenang), "surud kawibawaan" (: tidak punya wibawa/ kharisma), "surud kawisesan" (: bodoh, malas dan kata-katanya tidak berarti), "kelangenan tan genah" (: hidup boros sehingga menjadi miskin), "sedina anangun yuda neng pomahan" (:tidak pernah rukun dengan anak-istri), "rame ing gawe kirang pangan" (: banyak kerjaan tetapi hasilnya kurang/ tidak memadai)

Babad Pasek

BABAD PASEK
Zaman bahari tatkala nusa Bali dan Lombok masih berkeadaan goncang, sebagai perahu di atas lautan selalu goyang dan oleng. Nusa Bali dan Lombok ketika itu hanya ada gunung di Bali, bagian Timur gunung Lempuyang namanya. Bagian selatan gunung Andakasa, bagian Barat gunung Watukaru, bagian Utara Gunung Mangu namanya dan pula gunung Bratan. Sebab itu mudahlah oleh Hyang Haribhawana menggoyangkan nusa ini.
Dengan demikian bhatara Pasupati sangat belas kasihan melihat halnya pulau Bali ini, maka berkenanlah Bhatara membongkar sebagian lereng gunung Mahameru, dibawa ke Pulau Bali dan Lombok, si Badawang nala diperintahkan diam bertahan di pangkal gunung, Sang Anantabhoga dan Naga Basuki menjadi tali gunung itu, sedang Naga Taksaka menerbangkan. Diturunkan di Bali pada hari Kamis Keliwon wuku Merakih, sasih kedasa (April) bulan mati (tilem), rah 1, tanggek 1, tahun Caka 11.
Setelah beberapa tahun lamanya rusaklah nusa Bali, pada hari Kamis Keliwon wuku Telu, sedang hari Purnama raya, sasih Kasa (Juli), rah 7, tenggek 2, tahun Caka 27, ketika itu hujan sangat lebat disertai angin topan guruh kilat bersambungan, akhirnya terjadi gempa bumi disertai suara dentuman – dentuman sehingga dua bulan lamanya hujan saja, akhirnya meletus gunung Agung (Tolangkir) keluar air salodaka (air belerang) dari sana.
Setelah beberapa tahun antaranya, maka pada hari Selasa Keliwon wuku Kulantir, sasih Kalima (Nopember), kebetulan bulan Purnama, tahun Caka 31, meletus, pula gunung Agung itu, maka tampak keluar Bhatara Hyang Putrajaya disertai adiknya Bhatari Dewi Danu, turun menuju Besakih, terus menetap bertempat di sana disebut Parhyangan bergelar Hyang Mahadewa. Bhatara Dewi Danu berparhyangan di Ulu Danu Batur dan Bhatara Hyang Genijaya berparhyangan di Gunung Lempuyang.
Demikianlah riwayatnya pada zaman bahari, ketika Bhatara itu berangkat ke Bali diutus Hyang Pasupati, dengan sabdanya “Anakku bertiga kamu Mahadewa, Danu, dan Genijaya tidak lain hanya engkaulah kusuruh pergi ke Bali menjadi Pujangga orang Bali”.
Demikianlah sabda Hyang Pasupati lalu tiga Bhatara aitu datang menyembah, katanya: “Ya Tuhanku Bhatara, bukan karena kami akan menolak perintah Bhatara, hanya kami perlu kemukakan bahwa kami masih dalam keadaan anak - anak belum dewasa, tentunya kami tidak tahu jalan mana yang harus kami tempuh”.
Jawab Hyang Pasupati: “Anakku, janganlah bersusah hati, aku akan memberi engkau wahyu, supaya segala kehendakmu itu kesampaian hendaknya, sebab engkau adalah anakku sekarang”.
Setelah itu maka Bhatara tiga itu diberi yoga, ditempatkan dengan gaib didalam kelapa gading, kemudian berjalanlah mereka itu melalui dasar laut dengan segera tiba di gunung Tolangkir berparhyangan di Besakih. Demikianlah riwayatnya.
Diceritakan pula Bhatara Hyang Pasupati di Gunung Himalaya, memberikan nasehat kepada para Mpu semuanya, katanya: “Cucuku semua, dengarkanlah nasehatku kepada cucuku sekalian, bahwa aku telah memberi izin kepadamu sekalian untuk ke Bali, melaksanakan yoga disana, menyertai anakku Hyang tiga itu”.
Dalam antara itu diceritakan pula orang – orang yang bertapa di lereng Gunung Tolangkir yang berlanjut timbulnya raja yang memerintah pulau Bali. Konon permulaan penjelmaan raja ini diperintahkan oleh Tuhan untuk menjelma dimasukkan ke dalam selubung buah kelapa. Setelah duduk sebagai raja, digelari Shri Aji Masula – Masuli. Ketika itu sangat sejahtera masyarakat Bali, karena raja itu selalu melakukan Dharma keparamerthan, cinta bakti kepada dewa – dewa dan kawitan – kawitan.
Hal ini didengar oleh Shri Aji Mayadanawa, tentang halnya orang Bali semua, suka ria hatinya mempersembahkan Widhi – Widhana pujawali. Kemudian ia menuju ke desa Manikmao. Raja ini berhenti dengan maksud menanti orang – orang Bali yang akan pergi ke Besakih. Kemudian datanglah orang – orang Bali berduyun – duyun laki perempuan, bersama anak cucunya yang masih digendong, membawa sesaji untuk persembahan. Raja Mayadanawa berkata: “Hai engkau orang Bali, akan pergi kemana engkau membawa sesaji persembahan sangat lengkap?”
Orang – orang Bali menjawab: “Ya, Tuhanku, kami sekalian pergi ke Pura Besakih, ke Dalempuri, mempersembahkan bakti kepada Bhatari!” Raja bersabda pula: “O, ya, engkau sekalian pergi ke Dalem? Apa yang engkau minta disana?”
“Kami minta tirtha sarining tuwun (sari tanam – tanaman) supaya makmur dan menjadi tanam – tanaman kami dan minta keselamatan diri supaya mandapat umur panjang”, demikian jawab orang – orang Bali.
Raja Mayadanawa menjawab dengan berang serta menghardik: “Jika demikian halmu, aku tidak mengijinkan, jangan engkau kesana, sesungguhnya akulah Dalem Jati di Dalempuri dan di Besakih tidak ada dewa, tidak ada dalem disana, aku diberi bakti, aturi aku saji – saji.
Dengan hal yang demikian itu, tidak seorangpun yang berani meneruskan perjalanannya, semua kembali dengan rasa sedih. Ketika itu terjadi pada tahun Caka 896.
Perbuatan Mayadanawa itu didengar oleh Hyang Mahadewa, yang kemudian ia mohon izin pada Bhatara Pasupati untuk menghancurkan si Mayadanawa. Akhirnya terjadilah peperangan yang sangat panjang. Maka datanglah saatnya Shri Mayadanawa dibinasakan dalam pertempuran serta pula maha patihnya yang bernama Kalawong. Hal itu terjadi dipangkung Patas di sana mereka berdua menjadi tawulan batu padas. Dari seluruh sendi tulangnya mengalir darah yang tiada hentinya sehingga merupakan anak kali. Maka darah itu dikutuk oleh Bhatara Whai Mala yang sekarang dinamai Tukad Petanu.
Dan lagi sebabnya ada yang disebutkan Tirtha Empul dan Whai Cetik, dahulu ketika laskar dewa - dewa dalam keadaan tertekan dalam perang yang banyak menemui ajalnya di Tegal Pegulingan, karena kena air racun atas upayanya Mayadanawa dengan Kalawong, ketika itu mengertilah Bhatara bahwa laskarnya kena tipu muslihat musuh, segera Bhatara melakukan yoga dengan memancangkan panji – panjinya (umbul – umbulnya), maka keluarlah Tirtha Amertha yang sangat besar dan mujarab menghidupkan kembali para laskar dewa yang telah meninggal.
Demikian riwayatnya dahulu diwarisi sampai sekarang.
Setelah beberapa tahun selang dari peperangan itu, Bhatara Pasupati bersabda kepada para Panca Pandita, katanya: “Cucuku sekalian, dengarlah kataku ini! Janganlah engkau lupa terhadap bathin ketuhanan yang menjadi pokok kependetaan terutama ajaran kemoksaan dan ajaran – ajaran filsafat. Kemudian apabila ada turun – turunanmu, anak cucumu, sampaikan juga nasehatmu kepadanya, supaya mereka ingat akan tugas dharmanya terhadap ke-Tuhanan dan kependetaan. Jangan hendaknya anak cucumu lupa dan tidak setia pustaka suci, bukanlah keturunanmu jika lupa akan dharmanya, moga – moga mereka susut menurun menjadi ksatria. Dan yang penting harus diperingatkan, supaya selalu diselenggarakan tempat – tempat pemujaan kepada kawitan – kawitannya (leluhurnya) demikian pula tentang pujawalinya sampai kemudian hari”. Demikian sabda Bhatara Pasupati, maka seluruh Panca Pandita itu diperciki tirtha Amertha baiknya.
Di lain pihak diceritakan Mpu Genijaya pergi ke Bali menumpang perahu dari daun kiambang (kapu – kapu), memakai layar daun pangi, pada hari Kamis Keliwon masa Kadasa tanggal satu (Pratipada gukla) tahun caka 1079 (muka purwatadik witangcu).
Tidak diceritakan panjang lebar betapa hal di dalam perjalanan, pada suatu ketika tibalah di Pantai Nusa Bali yaitu di Cilayukti. Maka terlihat oleh adiknya Mpu Kuturan, bahwa kakaknya datang. Dengan tergopoh – gopoh Mpu turun menjemput kakaknya di pantai, dengan sujud menyembah lalu berkata.
“Selamat datang kakak pendeta, silahkan masuk ke dalam Parhyangan”. Mpu Genijaya mengangguk mengiakan seraya berkata “Marilah kita bersama –sama”, demikian katanya lalu tangannya dituntun oleh adiknya menuju Parhyangan. Setelah sampai dalam parhyangan lalu masing – masing duduk di tempat yang telah tersedia. Selama dalam parhyangan pendeta berkakak adik itu tiada putus – putusnya bercakap – cakap memperbincangkan ajaran agama dan filsafat mengenai Ketuhanan.
Setelah beberapa hari lamanya di Cilayukti, besok paginya pergilah Mpu Genijaya diiringi adiknya Mpu Kuturan menuju ke Dasar. Demi terlihat
oleh Mpu Gana bahwa kakaknya datang, maka dengan tergopoh – gopoh menyongsong seraya menyembah, katanya: “Silahkan paduka kakak pendeta masuk bersama adik Mpu Kuturan”.
Dengan bertuntunan tangan bertiga pendeta berkakak beradik itu masuk dalam parhyangan.
“Silahkan kakak pendeta duduk – duduk katanya Mpu Gana. Marilah adikku berdua, bersama – sama duduk dengan kakak”!
Setelah sama – sama duduk di tempatnya masing – masing dalam parhyangan, maka mulailah pembicaraan yang mengenai ajaran kebatinan, sampai kepada ajaran kemoksaan. Memang demikian seharusnya bagi orang - orang yang telah menduduki derajat Pendeta.
Besoknya pagi – pagi Mpu Genijaya pergi ke Besakih diiringi oleh dua orang adiknya Mpu Gana dan Mpu Kuturan. Setelah tiba, mereka langsung menuju parhyangan tempatnya Mpu Semeru, bahwa kakaknya datang disertai oleh dua orang adiknya, maka sangatlah gembira hatinya seakan – akan mendapat percikan tirtha amertha seraya bersujud mencakupkan tangan menyembah disertai dengan ucapan weda jaya – jaya “selamat datang”. Demikian pula kakaknya membalas dengan weda jaya – jaya, selamat, suara genta seakan – akan kumbang mencari madu bunga. Setelah itu maka Mpu Semeru berkata: ”Kakak Pendeta silahkan duduk bersama – sama adik berdua”. Marilah sama- sama kita duduk adik – adik sekalian, kakak mengijinkan “Jawab Mpu Genijaya”. Setelah sama – sama duduk Pendeta empat itu, maka Mpu Semeru bertanya:”Kapankah kakak pendeta turun ke Bali? Siapa yang mengiring”?
“Kakak sendiri saja tidak ada pengiring, turun di Cilayukti lebih dulu, kemudian ke Dasar, akhirnya datang kemari”. Selanjutnya terus mareka bercakap – cakap tentang hal ilmu bathin, filsafat ke-Tuhanan, Reg dan Yajur Weda, sampai juga kepada satuan – satuan huruf suci (Wijaksara).
Kemudian daripada itu tibalah hari Purnama Kapat, yaitu patirthan Bhatara Putrajaya, lalu pendeta empat itu menghaturkan puja wali. Tidak diceritakan betapa ramainya suasana yajna itu dan sekalian orang sama girang menghaturkan sembah.
Setelah beberapa tahun antaranya, diceritakan kembali halnya Mpu Ketek telah beristri seorang wanita anak dari Arya Padang Subadera. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama Sanghyang Pamanea. Sedang Mpu Kananda beristri dari anaknya Mpu Swetawijaya, telah juga berputra bernama Sang Kuladewa. Dan Mpu Wiranjana beristri dari anak Mpu Wiranatha. Mpu Witadharma istrinya adalah anak Mpu Darmaja yaitu cucu dari Mpu Yogiswara, berputra bernama Mpu Wiradharma.
Mpu Ragarunting beristri anaknya Mpu Wiratanakung, putranya Mpu Wirarunting. Mpu Prateka mengambil istri anaknya Mpu Pasuruan bernama bang Senetan lalu berputra bernama Hyadnya. Mpu Dangka beristri, anaknya Mpu Semedang. Dari pada itu lahir seorang putranya bernama Mpu Wiradangka, memper seperti nama ayahnya dan memper pula tinggi bathinnya.
Sekianlah jumlah anak dari tujuh bersaudara itu tersebut dalam kitab. Diceritakan pula anaknya Mpu Bradah dua orang laki – laki. Yang pertama bernama Mpu Ciwagandu mengambil istri anaknya Mpu Wiraraga, lalu berputra lima orang, wanita empat, laki seorang, semua elok rupanya, namanya masing – masing ialah: Yang laki bernama Mpu Wiranaga, yang perempuan bernama Ni Dewi Ratna Semeru, Ni Dewi Girinatha, Ni Dewi Patni, Ni Dewi Sukerti.
Anaknya yang kedua bernama Mpu Bahula beristri anak janda raja Jirah bernama Ni Dewi Ratnamanggali. Dari perkawinan ini berputra lima orang, empat orang perempuan dan seorang laki – laki. Namanya masing – masing yang laki – laki bernama Mpu Wiranatha, yang perempuan bernama: Ni Dewi Dwaranika, Ni Dewi Adnyani, Ni Dewi Amrtajiwa, Ni Dewi Amrtamangguli. Itulah semua keturunan Brahmana, tingkah laku dan bathinnya sesuai dengan kawitannya. Apabila salah seorang dari keturunannya itu melanggar nasehat Bhatara Kawitan, maka ia akan kena kutuk tidak dapat berlaku dalam jalan yang benar (mungpang selaku lampah) dan lagi selalu menurun derajatnya menjadi orang hina.__
Diceritakan Sang Mpu Bradah turun ke Bali dengan maksud akan datang menghadap kakaknya di Cilayukti, berhasrat hendak mengetahui bukti – bukti kakuasaan bathin kakaknya. Tidak direntang panjang betapa halnya dalam perjalanan, dikisahkan telah tiba di Cilayukti dengan berperahu kayu pelud yang hanya segenggam panjangnya. Mpu Kuturan seraya katanya: “Adikku selamat datang, silahkan duduk”.
“Ya paduka kakak pendeta, maksud saya datang menghadap ini adalah ingin mengetahui kekuasaan bathin paduka kakak paduka, jika boleh harap diperlihatkan kepada saya. Jawab Mpu Kuturan: “Jika demikian maksud adik baiklah kakak penuhi hasrat adik. Itu di sana ada seekor ayam baru bertelur tiga butir”.
“Terimakasih jika demikian kata Mpu Bradah”. Lalu Mpu Kuturan mengeluarkan kekuasaan bhatin hatinya, yaitu ditarik dengan kekuatan bathin telur itu, maka dengan seketika itu tiga butir telur itu datang dengan sendirinya kehadapan Sang Maharani. Oleh karena itu Mpu Kuturan tiga butir telur itu ditaruh bertumpuk tiga, lalu bertanya: “Adikku, coba terka apakah nanti lahir dari masing – masing telur ini?
“Baiklah”, jawab adiknya, seraya menenangkan bathinnya untuk mempersatukan ketajaman pandangan jiwanya ke dalam telur itu. Tiada lama antaranya Mpu Bradah berkata: “Kakak Pendeta, telur yang tempatnya teratas saya dengar suaranya menyerupai angsa, kiranya angsalah yang lahir dari padanya”.
Jawab kakaknya: “Tidak, naga keluar dari dalamnya”. Tiada lama antaranya, telur yang dibicarakan tadi pecah, lalu keluar anak angsa dari dalamnya.
Mpu Kuturan berkata pula: “Adik, coba terka telur yang ditengah ini; apa nanti lahir dari dalamnya”?
“Baiklah kakak pendeta”, jawab Mpu Bradah. Sebaiknya saya menerka telur terbawah lebih dulu. Gagak putih akan keluar dari dalamnya. Tiba – tiba telur tadi pecah, keluar seekor Gagak putih dari dalamnya, sekejap mata itu telah mulai belajar terbang di udara.
Kata Mpu Kuturan pula: “Adik, kini masih sebutir, coba terka lagi!”
Jawab adiknya: “Ya kakak pendeta, telur ini akan melahirkan dua ekor naga”.
Sekejap itu telur yang ketiga (di tengah) itu pecah keluar dua ekor naga yang buas, mulutnya menganga hebat dahsyat, taringnya tampak tajam – tajam, culanya berapi – api mengkilat – kilat lalu terbang ke udara turun di Besakih. Demikian ceritanya.
Setelah selesai peristiwa yang mentakjubkan itu, lalu Mpu Bradah bersemadi sejenak mencipta dengan kekuatan ilmu aji Basundari dan ketajaman pemandangan, kelihatan olehnya butir telur mengambang di tengah lautan sebelah timur Gunung Cilayukti. Apabila tidak keberatan, coba persatukan pandangan bathin, apa gerangan lahir dari padanya nanti.
“Baiklah kanda coba permintaan adinda” Jawab Mpu Kuturan seraya mengumpulkan dan semusatkan bathinnya dengan ilmu aji Antasiksa guhjawijaya, akan keluar dari dalamnya pancawarna”.
Mpu Bradah berkata: “Tidak”. Tiba – tiba pecah telur itu, keluarlah dari dalamnya hujan bunga panca warna harum semerbak memenuhi udara. Mpu Bradah berkata pula: “Wah benar kakak, coba yang lainnya diterka lagi!”. “Adikku jawab Mpu Kuturan, telur yang di tengah air tirtha Kamandalu asinya”. Tiba – tiba pecah telur yang ditengah itu. Seketika itu bergelora samudra itu, karena kaluarnya air tirtha Kamandalu bertempatkan kendi manik. Mpu Bradah berkata pula: “Kakak pendeta telur yang masih sebutir lagi yang tempatnya terbawah, apa gerangan keluar dari dalamnya, cobalah diterka baik – baik!” Mpu Kuturan menjawab: “Adikku, telur yang terbawah itu Badawangnala lahir dari padanya”. Baru pecah telur itu, memang benar lahir seekor Badawangwala dari dalamnya bersayap gerinsing wayang, berbulu piteala sutra yang sangat mentakjubkan. Ketika itu timbul benci hatinya Mpu Bradah, lalu mengucapkan kutuk katanya.
“Hai kamu Bedawangnala! Karena engkau ia jatuh ke Bumi, dari sejak ini sampai kemudian tidak boleh engkau bertelur dalam lautan moga – moga engkau dimakan ikan besar, salahmu durhaka kepadaku”. Demikianlah sabda Mpu Bradah sangat manjurnya. Itulah sebabnya bangsa penyu bertelur di daratan pantai laut dan banyak makhluk lahir dari padanya misalnya menjadi ular, penyu, empas, dan kura – kura. Beberapa hari antaranya, tibalah hari Kamis Wage dan Jumat Kliwon Wuku Sungsang, yaitu Sugihan Jawa dan Bali, maka beliau itu turut melakukan hari sugihan manik itu. Ketika itu pertama kali dirayakan hari Sugihan Jawa dan Bali. Yang disebut Sugihan Manik atau Ulihan Jawa, hari Kamis Wage, sedangkan Sugihan atau Ulihan Bali, hari Jumat Keliwon Sungsang.
Tiada diceritakan betapa kehidupan selanjutnya, pada suatu hari pulang Mpu Bradah itu ke Jawa, setelah mohon diri kepada kakaknya Mpu Kuturan. Setelah meninggalkan padang lalu pergi ke Gelgel menuju Dasarbhuwana. Tidak disebutkan apa pembicaraannya di Gelgel, setelah mohon diri daripada kakaknya disana lalu pergi ke Besakih, kemudian dari Besakih menuju Gunung Lempuyang. Setelah selesai mohon diri kepada kedua kakaknya ini, maka Mpu Bradah melanjutkan perjalannya ke Jawa berparhyangan di Pejarakan.
Tidak diceritakan betapa halnya Mpu Kuturan mengatur kesejahteraan masyarakat. Lama kelamaan maka pulanglah Sang Pancatirtha itu ke Suksmataya (ke alam baka), merupakan dhat Tuhan atau roh suci. Yang disebut Panca Tirtha itu ialah: Mpu Genijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah. Kini diceritakanlah lebih lanjut, anak cucu dan turun – turunan dari Sang Panca Tirtha itu semua, sangat astiti dan bakti terhadap Tuhan, terutama terhadap leluhurnya yang telah merupakan Dewata. Pada suatu ketika pada saat akan datangnya hari Purnama Kapat yaitu pujawali Bhatara – Bhatari di Besakih maka bermusyawarahlah Sang Sapta Pandita disertai oleh anak – anaknya sekalian, terutama Mpu Ketek, Mpu Kananda, Mpu Wiradnyana, Mpu Wira Dharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka, Dan Mpu Dangka.
Mpu Ketek berkata: “Adik – adikku dan putra – putraku sekalian, oleh karena Abra Sinuhun (Kawitan) kita telah pulang ke alam baka, serta mengingat nasehat – nasehat beliau dulu, apabila hari Purnama Kapat harus ada pujawali di Besakih. Kini hari yang penting itu akan tiba maksudnya kita harus berkemas akan pergi ke Bali menghadap Bhatara dan menghaturkan Pujawali dan Widhi – Widhana”. Jawa adik – adiknya sekalian: “Jika demikian, kami sangat setuju pendapat paduka kakak, marilah berkemas berangkat”.
Kemudian daripada itu datanglah hari Kemis Wage Sungsang, lalu para Mpu sekalian ke Besakih untuk melakukan Sugimanik di sana dahulu. Setelah selesai di sana dilanjutkan ke Lempuyang, dari Lempuyang ke Dasar dan terakhir di Cilayukti.
Setelah selesai tugas persembahan sekalian para Mpu itu maka mohon dirilah mereka pergi sekalian kembali ke Jawa. Selanjutnya tiap – tiap tahun (ngatewag) para Mpu itu pergi ke Bali menghaturkan pujawali kepada Bhatara – Bhatara (di sebelah Tuhan Yang Maha Esa terhadap roh – roh suci leluhurnya).
Setelah beberapa tahun lamanya, diceritakan bahwa Mpu Ketek telah mempunyai seorang anak dewasa bernama Sanghyang Pamanca mengambil istri seorang Mpu Ciwangandu yang bernama Ni Dewi Daranika termasuk sepupu tingkat kedua (mindon).
Adapun anaknya Mpu Kananda bernama Mpu Swetawijaya beristrikan anaknya Ni Dewi Dwaranika bernama Ni Dewi Adnyani.
Anaknya Mpu Wirajaya bernama Mpu Wiranata beristrikan anaknya Mpu Bahula bernama Ni Ratna Dewi Sumanggali.
Anaknya Mpu Wiradharma bernama Mpu Wiradarma mengambil seorang istri anaknya Mpu Bahula juga yang bernama Ni Dewi Girinatha.
Anaknya Mpu Ragarunting bernama Mpu Paramadaksa beristri kepada anaknya Mpu Ciwagandu bernama Ni Dewi Amrthajiwa. Dan anaknya Mpu Prateka bernama Mpu Pretekayadnya beristri anaknya Mpu Bahula bernama Ni Dewi Sumanggali.
Demikian pula anaknya Mpu Dangka bernama Mpu Wiradangka pun telah beristri anaknya Ciwagandu juga bernama Ni Dewi Sukerti.
Demikian masing – masing para putra Mpu itu telah sama beristri mengambil dari sepupu dan dua pupu (misan dan mindon), semuanya ahli dengan ajaran agama sama halnya dengan ayahnya masing – masing.
Kemudian Mpu Wiradharma berputra Mpu Lempita namanya mengambil istri anaknya Sang Hyang Pamanca bernama Ni Ayu Subrata, kemudian berputra seorang bernama Mpu Jiwaksara.
Dan seorang yang bernama Ni Ayu Sadra adik dari Ni Ayu Subrata dipakai istri Sang Kulpetak melahirkan seorang putra bernama Danghyang Sang Kulputih. Mpu Wiranatha berputra tiga orang, seorang laki – laki bernama Mpu Purwanatha dan dua orang wanita bernama Ni Ayu Wetan dan Ni Ayu Tirtha. Ni Ayu Wetan diperistrikan oleh anaknya Mpu Pradaksa yang bernama Mpu Wirarunting, lalu berputra dua orang laki perempuan. Yang laki – laki bernama Mpu Wira Ragarunting.
Anak Mpu Prateka Adnyana bernama Sang Prateka. Anak Mpu Dangka tiga orang, seorang laki bernama Sang Iradangka, dua orang wanita bernama Ni Ayu Dangka dan Ni Ayu Dangki.
Demikianlah keadaanya anak – anaknya para Mpu waktu di Daha Jawa, semuanya taat melakukan dharma kepanditaan.
Sampai disini kembali lagi diceritakan, bahwa dahulu ketika para Mpu pergi dari negara Daha, diusir oleh Shri Dangdang Gendis yaitu Mpu Pamanca, Mpu Swetawijaya, Mpu Wiranatha, Mpu Wiradharma, Mpu Paramadaksa, Mpu Pratekayadnya, Mpu Wiradangka, semua itu dulu pergi dari Daha disertai oleh anak cucunya berasrama di Tumapel.
Diceritakan pula dahulu anaknya Mpu Pamacekan anaknya Sang Kulpotak, anaknya Mpu Purwanatha, anaknya Mpu Wiradarma, anaknya Mpu Wirarunting, anaknya Mpu Prateka, anaknya Mpu Wiradangka, semuanya itu pergi dari Tumagel, lalu pergi menuju Negara Majapahit, di sanalah mereka berasrama ketika Raja Shri Aji Harsawijaya, ketika itu mulai adanya tujuh bersaudara itu (sanak pitu).
Yang disebut sanak pitu itu adalah: Mpu Pamacekan berputra dua orang laki perempuan yang bernama Arya Pamacekan, yang perempuan bernama Ni Ayu Ler, dipakai istri oleh putranya (cucunya) Mpu Wiradharma, bernama Mpu Wijaksana. Dan anaknya Sang Kulputih, dua orang laki perempuan yang laki bernama Wira Sang Kulputih , yang perempuan bernama Ni Ayu Swani.
Adapun anaknya Mpu Purwanatha dua orang laki –laki perempuan bernama Ken Dedes, yang laki – laki bernama Mpu Purwa. Dahulu waktu di Tumapel Mpu Purwa beristri anak Aji Tatar berputra dua orang perempuan yang bernama Ni Swaranika diperstrikan oleh cucunya Mpu Dwijaksana. Adapun Arya Tatar beristrikan anaknya sang Kultul Putih yang bernama Swani.
Adapun anaknya Mpu Ragarunting, anaknya perempuan bernama Ni Wirarunting diperistrikan oleh anaknya Mpu Pratekayadnya yang bernama Mpu Prateka. Dua orang adiknya lagi perempuan bernama Ni kamareka, diperistri oleh anaknya Mpu Wiradangka yang bernama Sang Wira dangka yang bernama Ni Kamawaka. Sedang Ni Swarareka diperistri oleh Arya Kepasekan dan adiknya Wira Kadangkan bernama Ni Swari Dangka. Demikianlah keadaanya di Majapahit, diceritakan setelah wafatnya Shri Aji Bedamuka karena daya upayanya Krian Gajah mada, demikian pula mahapatihnya Krian Pasung Grigis telah dipenjarakan di Desa Tengkulak. Dan setelah meninggalnya Krian Patih Kebo Mayura, sangat sunyi sepi negara Bali, pelaksanaan adat agama sudah lenyap, disebabkan karena tidak ada brahmana diam di Pulau Bali.
Pada waktu menjelang sasih: 6,7,8,9, dan 10 Krian Patih Gajah Mada mengaturi Mpu Dwijaksara supaya turun ke Bali untuk menyelesaikan kewajiban terhadap puja wali Bhatara di Besakih, di Gelgel, di Cilayukti, di Lempuyang, dengan tujuan supaya Pulau Bali mendapat keselamatan dan supaya menjadi Bhagawan Tanya Dalem yang memerintahkan pulau Bali seluruhnya. Demikian permintaan Krian Gajah Mada, sebab itu Mpu Dwijaksara turun ke Bali disertai oleh anak istri dan putranya semua.
Tidak dibicarakan lebih lanjut, pada suatu hari telah tiba di Pura Besakih. Dengan segera memerintahkan orang – orang Bali yang berdiam di sebelah menyebelah parhyangan supaya segera memperbaiki bangunan – bangunan yang ada di dalam parhyangan terutama di Besakih. Orang – orang Bali semua dengan girang memperbaiki masing – masing terutama di Sad Kahyangan masing – masing. Apabila Kajeng Keliwon: 6, 7, macaru ayam pancawarna, itik belang kalung.
Pada sasih 8, caru sanak, ayam manca warna, anjing bang bungkem, itik belang kalung, angsa, kambing, kerbau hitam Sasih 9 ditambah kerbau brakawos, kucit butuh pitu, dinamai tabuh gentuh. Di Besakih mancawalikrama. Sasih 4 anyiabrahma, setelah itu turun Bhatara Kabeh.
Demikian nasehatnya, maka semua orang – orang Bali menghaturkan wali di parhyangan, demikian juga di Besakih, di lempuyang, di Batukaru, di Beratan, di Pejeng, di Andakasa di Gelgel, dan di Cilayukti, mengingat kebijaksanaan jalannya yang ulu dulu. Adapun Dwijaksara berasrama di Gelgel membuatTaman Darmada, harumnya memenuhi taman itu,
karena kebetulan pertengahan masa kapat, kumbang berdengungan suaranya mengisap bunga.
Diceritakan lebih lanjut tentang hal kembalinya para utusan dari Jawa telah tiba di Gelgel. Setibanya di Bali segera mengatur pemerintahan dan menjaga tata tertib susila di seluruh Bali serta mengatur jalannya adat agama mengadakan pura – pura desa balai Agung di seluruh desa di Bali. Demikian pula yang dijaganya parhyangan di Besakih dan sekitarnya gunung Agung, dan pura – pura lainnya di Gelgel, Lempuyang, Cilayukti, Watukaru, Bratan, Andakasa, Pejeng, dan lainnya.
Diatur dan diselenggarakan sesuai dengan yang berlaku dahulu – dahulu, sebagai halnya para leluhur yang telah ke alam baka dulu. Demikian halnya Krian Patih Ulung bersama saudara – saudaranya mengatur pemerintahan. Diceritakan Ki Patih Ulung telah mengambil seorang istri yaitu cucunya Sang Mpu Prateka.
Dari perkawinan ini menghasilkan seorang anak laki – laki bernama Kyai Smaranatha beristrikan cucunya Mpu Wiradangka bernama Rudani, melahirkan seorang anak laki – laki bernama I Rare Angon.
Sementara itu Kyai Bendesa mengambil seorang istri ke desa Manikhyang lalu berputra dua orang laki – perempuan. Yang laki – laki bernama I Bendesa Manikan, yang perempuan bernama Ni Luh Manikan diperistri oleh Kyai Rare Angon ada seorang putranya bernama I Pasek Gelgel. Demikian riwayatnya dahulu keadaan para Mpu tujuh bersaudara itu. Lambat laun turun – turunannya tidak taat kepada Dharmanya, sehingga menurun derajatnya, ada pula yang menjadi orang tani. Disebutkan pula anaknya Mpu Ketek bernama Arya Kepasekan. Anaknya ini beranak pula 2 orang laki perempuan, yang laki bernama Kyai Agung Pamacekan, yang perempuan bernama Ni Luh Pasek. Anak itu diperistrikan oleh Gusti Pasek Agung Subadra berputra 2 orang laki – laki bernama I Pasek Gelgel dan Pasek Denpasar.
Lain lagi anaknya Kyai Gusti Agung Kapasekan bernama Sang Kulputih saudara dari mangku Sang Kulputih, adalah seorang anaknya bernama Kyai Gusti Agung Subadra. Kyai Gusti Agung Subadra berputra 2 orang laki – laki bernama Kyai Tohjiwa dan Kyai Agung Pasek Subadra. Dan putranya Mpu Kananda dulu yang bernama Mpu Swetawijaya, Sang Kuladewa Wara Sang Kulputih, Sang Kulputih ada dua orang anaknya laki perempuan, yang laki bernama Dukuh Sorga, bertempat tinggal di desa Sorga sama –sama taat beryoga semadi di Besakih. Sekalian turunan Dukuh Sorga ini menjadi Mangku Sang Kulputih. Dan pula anaknya Mpu Wiradnyana bernama Mpu Wiranatha telah bernama Mpu Purwanatha, Mpu ini berputra bernama Arya Tatar. Ki Arya tatar ini berputra Kyai Gusti Pasek Lurah Tatar, anaknya bernama De Pasek Tatar. Apa sebabnya demikian, karena lahirnya dahulu dari seorang perempuan dari Shri Aji Tatar.
Adapun anak turunannya Mpu Withadarma tiga orang bernama: Mpu Lempita, Mpu Panandha, dan Mpu Pastika.
Dua orang Mpu ini yaitu Pananda dan Mpu Pastika berasrama di Cilayukti melakukan yoga sangat taat dan melakukan dharma Sukla Brahmacari meniru halnya Mpu Kuturan yaitu terhitung Kempiang dari saudara. Adapun Mpu Lampita berputra Mpu Dwijaksara beristrikan anaknya Arya Tatar lalu bernama Patih Ulung. Patih Ulung ini dijadikan Patih oleh Raja Bali yang bergelar Shri Aji Tapohulung turunan Dalem Masula – Masuli dulu.
Ada diceritakan lagi seorang anak perempuan dari Pangeran Tangkas sedang remaja putri, diambil istri oleh Kyai Pasek Agung Gelgel yaitu saudara sepupu olehnya. I Gusti Tangkas Kuri Agung merasa akan diri keputungan (keputusan warisan turunan), maka ia beramanat kepada I Gusti Agung Pasek Gelgel katanya: “Hai anakku Gusti Agung Pasek Gelgel, karena engkau suka kepadaku, kini bapa menyerahkan diri kepadamu, oleh karena bapa tidak akan mempunyai keturunan lagi (tidak beranak laki- laki). Kini ada seorang anakku perempuan saudara sepupu olehmu, apabila kamu suka, bapa akan berikan kepadamu Gusti Agung.
Dan lagi ada harta benda bapa yaitu isi rumah tangga serba sedikit serta pelayanan 200 orang, semuanya itu anakku mengusahakan.
Pendeknya engkau manjadi anak angkatku. Kemudian apabila bapa pulang ke alam baka supaya anakku menyelesaikan upacara jenazahku. Yang penting permintaanku adalah agar sama olehmu melakukan upacara sebagai bapa kandungmu sendiri. Dan peringatanku kepadamu, oleh karena dahulu ada permintaannya Pangeran Mas kepada leluhur kita, yaitu supaya jangan putus turun – turunan kita dengan sebutan Bandesa. Sebabnya ialah supaya mudah oleh beliau kelak mengingati turunan - turunan beliau bila ada lahir dari beliau.
Kini oleh karena bapa memang berasal dari sana, sebab itu bapa minta kepadamu, bila kemudian ada anugerah Tuhan kepadamu terutama kepada bapa, ada anakku lahir dari sepupumu Ni Luh Tangkas, supaya ada juga yang memakai sebutan Bandesa Tangkas itu sampai kemudian, supaya mudah leluhur kita mengingati turun – turunannya nanti di Sorga.
Demikian kata Gusti Tangkas Kori Agung kepada Gusti Pasek Gelgel. Ketika itu I Gusti Pasek Gelgel belum berani memutuskan sendiri dan menurut permintaan itu, lalu minta timbangan suadara – saudara sepupu dan mindonnya. Akhirnya disetujui oleh sekalian saudara – saudaranya, maka ketika itu barulah I Gusti Pasek Gelgel menurut katanya Gusti Tangkas Kori Agung.
Diceritakan I Gusti Agung Pasek Gelgel kawin dengan Ni Luh Tangkas dengan upacara yang besar dan meriah. Kecuali dari sanak saudaranya tamu undangan lainnya sangat banyak datang yang turut memeriahkan perkawinan itu.
Lambat laun cucu Kyai Pasek Agung Gelgel makin mengembang banyak, selalu menjadi tangan kaki Dalem, pengatur balai Agung di pelosok desa di Bali.
Diceritakan pula De Gurun Pasek Gelgel ada dua anaknya, yang sulung bernama De Gurun Pasek Gelgel menjadi kepala pengatur Bale Agung di Desa Gelgel, adiknya bernama De Pasek Togog menjadi pengatur di Besakih berumah di desa Muntig, ahli dalam hal Rajapurana, ahli kependetaan dan segala pengetahuannya terutama upacara jenazah serta adat penyelesaiannya, sampai kepada kemoksaan dan kajang rwabhineda. Kemudian ada tiga orang anaknya laki – laki yang sulung bernama I Dukuh Ambengan, adiknya De Dukuh Sabudi yang bungsu Dukuh Bunga. Adapun De Dukuh Ambengan kemudian bernama De Dukuh Badeg, lalu beranak bernama De Dukuh Prawangsa, semua mengembangkan turunan, semua itu berasal dari satu kawitan.
Lain lagi anak I Gusti Pasek Agung Gelgel yang lahir dari Luh Tangkas Kori Agung berputra empat orang laki – laki, yang sulung bernama I Tangkas Kori Agung, adiknya I Bendesa Tangkas, I Nyoman Pasek Tangkas, dan Pasek Bendesa Tangkas Kori Agung.
Adapun menjadi patindih sebagai Bendesa yang dikirim oleh Dalem ke desa – desa yaitu: I Bendesa Muncan membukti sawah winih 50, I Bendesa Selat Duta mabukti winih 50, Bendesa Sebetan mabukti winih 50, I Bendesa Bugbug mabukti rakyat di Bugbug, I Bendesa Sangkiding mabukti winih 50, I Bendesa Sabegan mabukti winih 50, I Bendesa Timbrah mabukti winih 50, yang bernama Atakapi. Dan I Bendesa Babi mabukti winih 50, I Bendesa Tumbu mabukti winih 50, adapun I Bendesa Manikan mabukti winih 100, I Bendesa Ujung mabukti winih 50.
Adapun I Pasek Agung Gelgel yang menjadi penghulu di Bale Agung yaitu: I Pasek Budaga, De Pasek Sangkan Buana, De Pasek Manduang, De Pasek Ahan, De Pasek Akah, De Pasek Gobleg, De Pasek Bebetin, dan De Pasek Depaa.
I Pasek Akah beranak tiga orang laki – laki bernama: I Wayan Pasek Akah, I Pasek Tabola, I Pasek Wangsian. Adapun De Pasek Muntig, De Pasek Babi, De Pasek Tista, De Pasek Denpasar, De Pasek Batudawa, De Pasek Tulamben, De Pasek Narga, De Pasek Kekeran, semuanya itu turunan De Pasek Gelgel.
Dan De Pasek Tohjiwa turunannya yang menjadi penjaga bumi Tohjiwa, anak – anaknya juga banyak, semuanya menjadi penyelenggara Bale Agung di desa – desa seluruh Bali.
Yang Tertua bernama Ki Paseki Tohjiwa, sebagai nama bapanya, adiknya bernama De Pasek Tanggun Titi, De Panatahan, De Pasek Antasari, De Pasek Galih Ukir, De Pasek Alanglinggah, De Pasek ring Basang, De Pasek Beda, De Pasek Wanagiri, De Pasek Pejaan, De Pasek Pupuan, De Pasek Sanda, sekian jumlah turunan Kyai Pasek Tohjiwa.
Adapun turunan Kyai Agung Pasek Subadra, diminta keluar dari Gelgel menuju Bale Agung di seluruh Bali. Anaknya tertua bernama Pasek Padang Subadra, beruma di Padang, menyelenggaraan Pura Cilayukti, De Pasek Suladri menjadi Dukuh di Suladri, beryoga di Pura Dalem menjadi Pamangku, sebab itu bernama Dukuh Suladri. Semenjak itu bernama Dalem Suladri.
Dan De Pasek Kusamba, De Pasek Bale Agung Bangli, De Pasek Dukuh Pahang, De Pasek Paguyangan, De Pasek Cemangi Munggu, dan De Pasek di Munggu, De Pasek Titigatung, De Juntal. Demikian banyak turunan Kyai Pasek Agung Padang Subadra. Banyak turunannya bercabang ranting.
Adapun turunan De Pasek Tatar, yang sulung bernama Ki Pasek Tatar, adik – adiknya Ki Pasek Panataran di Desa Telengan, De Pasek Mangku Bale Agung Bukit Cemeng, De Pasek Bale Agung, De Pasek Pidpid. Sekian turunan De Pasek Tatar sama – sama mengembangkan turunannya.
Dan turunannya De Pasek Prateka yaitu De Pasek Dukuh Gamengan, De Pasek Dukuh Bilatung, De Pasek prateka ring Akah, De Pasek ring Nongan, De Pasek Rendag, De Pasek Kusaban.
Sekian mulanya turunan I Gusti Pasek Prateka makin berkembang.
Dahulu ada diceritakan Danghyang Nirartha, pergi dari Daha menuju Majapahit menuju Danghyang panataran, di sana berputra dua orang laki- laki. Kemudian pergi ke Pasuruhan di tempat Dnaghyang Parawasikan, berputra dua orang laki- laki, akhirnya beliau ke Brambangan Keniten semuanya, diterima oleh Dalem juru di Brambangan baik – baik. Tetapi lama kelamaan adalah timbul pertikaian – pertikaian, sebab disangka permaisurinya Keniten menaruh cinta kepada Danghyang Nirartha, dituduh memasang guna – guna, sebab itu harum bau keringatnya.
Adapun Dalem juru ada agak kurang beres ingatannya, disuruh istrinya mengarangkan hal dirinya sebab itu ada termasuk dalam nyanyian (poezi) “Siapakah yang akan mengobati birahiku tidak lain permaisuri Kaniten yang seakan – akan Saraswati”.
Danghyang Nirartha pergi dari Brambangan menuju Pulau Bali, mengendarai Waluhkele, tangan dan kakinya digunakan dayung dan kemudian sedang istrinya dan tujuh putrinya dibuat dengan jukung bocor.
Tidak diceritakan betapa halnya dalam pelayaran, pada suatu saat turun Danghyang Nirartha di Kapurancak yaitu di Pantai Pulau Bali. Demikian diceritakan tak dapat taida Dalem Juru akan memenuhi kehancuran sebab seakan – akan telah kena bajra – wisa dan Dalem Baturenggong seakan – akan Parupati.
Setelah Danghyang Nirartha turun di Kapurancak lalu meneruskan perjalanannya ke daratan, diiringi oleh istri dan tujuh orang anaknya.
Di tengah jalan berjumpa dengan seorang gembala, karena ditanya ditanya pendeta, menunjuk arah ke Timur. Dalam perjalanan menempuh hutan itu tiba – tiba bertemu dengan seekor kera besar menghalangi menghadang di tengah jalan kecil itu. Pendeta berkata: “Hai kera besar berikanlah kami jalan.” Lalu kera itupun menghindarkan diri, maka pendeta beserta rombongannya melanjutkan perjalannya.
Tiba – tiba bertemu pula dengan seekor naga besar menghadang di perjalanan, mulutnya menganga setinggi orang berdiri. Pendeta lalu masuk ke mulut naga itu sampai ke dalam perutnya maka dijumpainya sekuntum bunga tunjung lalu dicabutnya. Kemudian keluarlah beliau dengan wajah muka yang hitam warnanya. Dengan hal yang demikian larilah anak istrinya kemudian warna muka pendeta itu berubah menjadi warna emas, maka dikumpulkanlah pula anak istrinya, tetapi sayang seorang anaknya hilang. Putrinya yang hilang itu bernama Ida Ayu Swabawa, tidak lagi merupakan manusia. Ia itu merupakan orang halus yang luput dari umur tua dan mati. Beliaulah dianggap Dalem Melanting di Pulaki. Demikian diceritakan.
Sementara itu Sang Rsi Nirartha sampai di Desa Gadingwani, dan kebetulan waktu itu orang – orang desa Gadingwani diserang penyakit, maka diobati oleh Sang Pendeta dengan sepahnya (adem, susur, bhas, Bali) maka sembuh semuanya. Dengan demikian tahulah Kepala Desa (Bendesa) Gadingwani, bahwa Danghyang Nirartha itu adalah seorang pendeta yang sakti lalu ia menghadap dengan sembahnya serta memohon agar diberi tirtha pembersihan dirinya (diniksan).
Demikianlah tersebar pula kabar yang menyenangkan ini di seluruh Desa Mas. Maka Pangeran menghadap kepada pendeta, dengan sangat hormat memohon supaya memberi ajaran agama kepadanya seraya memberikan tirtha pembersihan (inangshara). Demikianlah riwayatnya.
Ni Ayu Swabhawa yang berbadan gaib di Pulaki, ketika itu ayahnya pergi ke Gelgel akan memberi tirtha pembersihan (ndisain) Dalem Baturenggong, bermalam di Jembrana di Banjarwani Tengah dulu, di rumah De Bendesa Mas karena sangat lama Ni Ayu ditinggalkan oleh ayahnya sangat panas hatinya, lalu beliau mengutuk desa disana yaitu disebelah Utara Rambut Siwi, orang desa di sana sebanyak 800 perinduhan agar terbakar seluruhnya beserta penghuninya. Ki Bendesa minta dengan hormat supaya jangan terus mengutuk desa itu, sementara menanti pendeta dari Gelgel. Tetapi Ni Ayu Swabhawa tidak meluluskan. Hanya ada pemberiannya yaitu santra utama yang dapat dilakukan dalam hidup dan mati bernama Canting Mas dan Siwer Mas, Weda Sulambang Geni, Pasupati rencana. Semua itu boleh dipakai oleh Bedesa Mas dan turun- turunannya selama hidup dalam Pulau Bali.
Kutuk Ni Ayu Makbul. Sebab itu beliau didudukan sebagai Bhatari di Pura Pulaki dijaga oleh orang – orang yang tidak kelihatan yang disebut Sumedang.
Sementara itu ada diceritakan lain, yaitu Danghyang Sidhimantra berputra seorang laki –laki yang tabiatnya suka benar berjudi kesana kemari, terkenal dengan namanya Ida Manik Angkeran. Dahulu semasa beliau masih di Pulau Jawa kalah dalam perjudian, sangat duka cita, lalu dicuri genta bajra pendeta (ayahnya) yang bernama: I Brahmana, segera pergi ke Pulau Bali menuju Tolangkir yaitu: di Besakih, lalu berdoa dengan memusatkan pandangannya ke ujung hidung (angkrana sika) pada sudut sebuah goa, seraya membunyikan genta I Brahmana itu. Maak terdengarlah suara genta itu oleh Bhatara Naga Basuki dari patala, lalu segera beliau keluar menjumpai orang yang membunyikan bajra itu, katanya: “Apa sebabnya engkau Bagus datang ke Bali memanggil aku ini” Ida Manik Angkeran menjawab: “Ya, Bhatara maafkanlah, hamba ingin mohon bunga gilosawit, kembang kuning sawit, agar selalu menang dalam perjudian, untuk bekal ke Majapahit.
Jawab Bhatara: “Jika demikian aku anugrahi engkau menang dalam sambungan ayam supaya banyak mendapat mas, pulanglah engkau Manik Angkeran.” Hingga tiga kali Bhatara mengulangi sabdanya itu. Ida Manik Angkeran masih juga tetap diri tidak pergi dari tempatnya akhirnya ia berkata: “Ya Bhatara hamba ucapkan terima kasih atas anugerah Bhatara. Sebelum hamba meninggalkan tempat ini sebaiknya paduka Bhatara masuk ke Istana terlebih dahulu.”
Bhatara Naga Basuki masuk dalam goa. Setelah setengah bagian ke dalam goa, maka terlihat oleh Manik Angkeran sebuah Intan besar yang gemerlapan menjadi perhiasan ekor Bhatara Naga Raja. Gairah hati Manik Angkeran ingin memiliki intan besar itu tidak tertahan olehnya, lalu segera menghunus keris pejenengan yang bernama I Gopang, dengan secepat kilat diparangkan kepada ekor Bhatara itu. Sekali parang, ekor Naga Raja itu putus, maka segera diambil intan itu, terus dilarikan.
Tidak terperikan murka Bhatara Naga Basuki dengan hal yang demikian itu, segera bekas tapak kaki Manik Angkeran itu dijilat yang sedang lari sangat deras tersungkur jatuh lalu terbakar hangus menjadi abu. Sekalipun demikian akibatnya, namun Bhatara Naga Raja tetap berduka cita.
Diceritakan Danghyang Shidimantra merasa was – was akan terjadi sesuatu bahaya yang menimpa diri anaknya, karena tidak kembali dalam tiga hari dari kepergian bermain sambung ayam. Ketika itu kebetulan hari Purnama masa Kapat, Danghyang Sidhimantra hendak memuja, dicarinya genta bajra si Brahmana sudah hilang, kian bertambah duka cita Sang Pendeta dan merasa dalam bathinnya: “Wahai kiranya I Bagus (Manik Angkeran) pergi ke Bali” segera diambilnya daun alang – alang dikucanya keluar api.
Tidak diceritakan lebih lanjut, lalu Sang Pendeta pergi ke Bali menuju ke Besakih. Di muka goa Bhatara Naga Raja beliau memuja. Tetapi Bhatara tidak keluar. Hingga tiga kali Sang pendeta memuja, tiba – tiba gemetar permukaan bumi berbarengan dengan keluarnya Bhatara Naga Basuki. Terlihatlah oleh Bhatara seorang pendeta pucat lesi wajah durjanya bersanda: “Apa sebab Sang gede datang ke Bali memujaku?”
“Ya Bhatara, hamba mencari anak hamba Ki Manik Angkeran”, jawab Bhatara Sidhimantra. Sabda Bhatara: “Wah ia telah hangus menjadi abu. Sebabnya terjadi demikian itu Manik Angkeran sangat durhaka kepadaku yaitu memotong ekorku ini. Kini apa kehendak Sang Gede? Apa ingin supaya ia hidup? Saya akan meluluskan apabila Sang Gede dapat menyambung ekorku kembali sebagai sediakala.”
Demikian sabda Bhatara.
Jawab Sang Pendeta: “Baiklah hamba mengerjakan perintah Bhatara”. Seketika itu ekor Bhatara Naga Raja yang putus itu dirapatkan dan diberi mantram, maka kembalilah sebagai sedia kala tidak ada cacatnya.
Sabda Bhatara: “Terima kasih Sang Gede karena Sidhi Mantram Sang Gede, mulai saat ini berhenti bernama Mpu Bekung, Mpu Sidhimantra nama yang tepat bagi Sang Gede. Sekarang lihatlah anak Sang Gede, Ki Manik Angkeran. Sang Pendeta menengok ke tempat abu anaknya, tampak sebuah intan di dalamnya. Intan itu diambil lalu abunya diludahi oleh Mpu Sidhimantra. Seketika itu Manik Angkeran hidup kembali, tidak ingat kepada dirinya bahwa ia menjadi abu, segera bangun menggapai intan itu, hendak melarikan diri. Danghyang Sidhimantra cepat berkata: “Hai bagus apa kehendakmu ini? Intan yang kamu gapai – gapai itu telah Bapa yang membawanya”.
Manik Angkeran membuka matanya lebar – lebar memperhatikan orang memanggil namanya. Terlihatlah olehnya Pendeta ayahnya berdiri di hadapannya bersama Bhatara Naga Basuki. Manik Angkeran berdiam malu. Pendeta Sidhimantra berkata: “Anakku Manik Angkeran, ketahuilah dirimu bahwa engkau telah mati kemarin, disebabkan karena terlalu durhaka kepada Bhatara. Kini demi belas kasihan Bhatara engkau hidup kembali, kuserahkan engkau kepada Bhatara supaya menjadi juru sapu Bhatara Gunung Agung, diberi wewenang turun menyelenggarakan sembah bakti rakyat Bali”.
Manik Angkeran menuruti perintah ayahnya seraya menyembah, demikian pula terhadap Bhatara Nagaraja. Danghyang Sidhimantra gembira hatinya melihat anaknya hidup kembali dan telah menuruti nasehatnya, lalu memohon diri kepada Bhatara pulang kembali ke Jawa. Setelah sampai di Pantai Desa Gadingwani maka beliau berhenti berjalan seraya berpikir – pikir: “Jika tidak dibuatkan empengan, tentu I Bagus kembali lagi ke Jawa. Lalu Sang Pendeta Anggranasika (melihat ujung hidung) mempersatukan bathinnya untuk mengadakan suatu ciptaan. Tiba – tiba Desa Gadingwani lenyap seketika itu, lalu digoreskan tongkatnya maka terjadilah suatu hubungan laut Utara dengan laut Selatan merupakan selat kecil dinamai segara Rupet.
Demikianlah riwayatnya yang tercantum dalam pustaka Rajapurana, asal mulanya anak cucu dan turunan – turunan Ida Manik Angkeran menjadi juru sapu paming di Parhyangan Besakih.
Kemudian dari pada itu turun – turunan Ki Pangeran Mas membuat pula pura disana diberinya nama juga Bukeabe, yang patut diselenggarakan oleh Sang Brahmana Wangsa semua terutama oleh turun – turunan I Pangera Mas.
Apabila ada kemudian turun – turunan I Bendesa Mas tidak ingat dengan persembahyangannya terhadap Pura Pule dan Bukeabe, seluruh keluarga Pangeran Masti tidak mendapat selamat, surut kebijaksanaannya, anak cucunya putus, berlaku durhaka dan menyalahi tata tertib/susila, tidak putus – putusnya dirundung kemalangan, karena tidak menuruti ucapan piagam – piagam. Demikianlah amanat I bendesa Mas kepada anak cucunya. “Janganlah engkau anak cucuku lupa terhadap amanatku ini”. Demikianlah kata Bendesa Mas terakhir.
Ada pula anugerah Ida pedanda Dwijendra dulu terhadap I Pasek dan I Bendesa Mas, yaitu:
Pada waktu mati kemudian, boleh memakai trilaksana, menggunung pitu, ancak taman, kapas warna sembilan, karang liman, memakai Bhoma bersayap, berbulu cintya reka, saluyang lengkap dengan segala upakara yang utama, berkajang, berkalasa, berpatrang, berkemul, terpana, paturalangan yang berbentuk serba bintang, boleh dipergunakan nista media utar, matebas – tebas, utamanya dengan uang 8000, madya 4000, nista 2500, nistaning nista 1700.
Semua itu patut diwarisi oleh anak cucunya terus menerus, Amanat paduka Bhatara Sakti Wahurawuh demikian itu dinasehatkan oleh Pangeran Mas kepada anak cucunya.

Klik to Info :